Hindari Risiko Gangguan Pendengaran Sejak Dini
06 September 2017

Pendengaran merupakan salah satu indera vital manusia. Apabila indera ini tidak berfungsi dengan baik, risiko gangguan bicara menjadi kemungkinan yang tidak dapat terelakkan, terutama apabila terjadi pada usia dini. Bagaimana cara mendeteksi gangguan pendengaran sejak dini?

Risiko ketulian yang terjadi pada bayi baru lahir berada pada angka dua persen. Berkaitan dengan kasus ini, tes atau skrining pendengaran harus dilakukan tidak hanya untuk mendeteksi, namun juga menghindari terjadinya risiko gangguan pendengaran. Pada pasien dengan umur di bawah satu tahun, rehabilitasi pendengaran masih sangat mungkin dilakukan apabila orang tua secara sigap melakukan tes pendengaran sejak dini. Tes ini menjadi penting karena apabila dibiarkan tumbuh dengan gangguan pendengaran yang tidak dapat terdeteksi, risiko gangguan kemampuan bicara pada anak juga semakin tinggi.

Secara umum, tes untuk mendeteksi gangguan pendengaran terbagi atas dua jenis: subjektif dan objektif. Tes subjektif merupakan tes dua arah, artinya dokter akan merangsang pasien dengan bunyi-bunyian dan pasien akan merespons atas bunyi-bunyian tersebut. Tes ini biasanya dilakukan kepada orang dewasa yang memiliki kemampuan untuk merespon. Sementara itu, tes objektif merupakan tes satu arah, biasanya dilakukan kepada anak-anak, bahkan bayi, yang secara verbal belum dapat merespons. Tes objektif ini menggunakan seperangkat peralatan untuk menilai elektrofisiologi dengan memberi stimulus suara. Pemeriksaan ini kemudian dapat secara langsung dianalisis tanpa membutuhkan kerjasama dengan pasien. Beberapa tes objektif pendengaran yang marak digunakan adalah skrining Otoacoustic Emission (OAE) dan Brainstem-Evoked Response Audiometry (BERA).

Otoacoustic Emission (OAE)

OAE adalah skrining pendengaran untuk menilai sel rambut yang terdapat di rumah siput (koklea). Tes yang menggunakan alat berbentuk headset ini dapat mengukur getaran suara dalam liang telinga. Secara sederhana, OAE bekerja sebagai stimulan juga receiver. Stimulus yang dipancarkan melalui headset tersebut kemudian ditangkap oleh sel rambut dengan sebelumnya telah terlebih dahulu menggetarkan gendang telinga dan melalui tulang pendengaran. Stimulus yang tertangkap oleh sel rambut ini kemudian menghasilkan getaran yang kembali ditangkap oleh receiver. Setelah getaran diterima oleh receiver, barulah dapat diputuskan mengenai baik atau tidaknya fungsi koklea berdasarkan perbedaan amplitudo yang telah diterima.

Biasanya, gangguan pada sel rambut terjadi pada bayi-bayi dengan kondisi prematur, tingkat bilirubin yang tinggi, meningitis, riwayat Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegavirus, dan Herpes (TORCH) pada kehamilan ibu, serta faktor genetik (riwayat gangguan pendengaran pada keluarga). Pada bayi-bayi dengan kondisi demikian, skrining OAE adalah tes yang harus dilakukan untuk mendeteksi kemampuan pendengarannya. Namun, tes ini juga dianjurkan untuk dilakukan meski dengan tanpa kondisi tersebut, bertujuan untuk tindakan preventif. Tes ini dapat dilakukan setidaknya pada bayi yang baru berusia dua hari.

Brainstem-Evoked Response Audiometry (BERA)

BERA merupakan skrining pendengaran lanjutan atas OAE. OAE mendeteksi fungsi pendengaran terbatas pada telinga luar hingga koklea. Sementara, untuk mendeteksi fungsi saraf vestibulocochlear sebagai transmiter ke otak dapat dilakukan dengan skrining BERA. Sebelum pada akhirnya menjalani skrining BERA, pasien harus terlebih dahulu melakukan tes ulang OAE apabila hasilnya ditemukan refer (mengalami gangguan) dengan jangka waktu tiga bulan. Setelah tes dilakukan lagi dan hasil yang didapatkan kembali refer, tes BERA dapat dilakukan.

Secara prosedur, tes BERA dapat dikatakan menyerupai dengan prosedur EEG. Yang membedakan adalah, pada prosedur BERA, diberikan stimulus di telinga untuk kemudian dinilai rangsangan yang diterima oleh otak menggunakan elektroda. Ada tidaknya pendengaran didasarkan oleh kecepatan gelombang.

Hasil skrining BERA dapat dikatakan lebih akurat karena hasil skrining berkaitan langsung dengan respons di otak. Dalam prosesnya, pasien harus dalam keadaan rileks untuk menghindari pemetaan gelombang yang tidak sesuai. Pada anak-anak, skrining BERA akan efektif dilakukan dalam kondisi tidur. Karena pada saat tidur, saraf-saraf menjadi rileks sehingga kesalahan pemetaan gelombang bisa dihindari. Hal ini pula yang menjadi kekurangan tes BERA karena harus menunggu pasien untuk tidur. Selain itu, tes BERA juga baru bisa dilakukan pada bayi minimal berusia tiga bulan.

Skrining pendengaran OAE dan BERA merupakan dua dari beberapa skrining pendengaran yang bisa dilakukan. Adalah hal yang dianjurkan untuk melakukan beberapa skrining dengan jenis berbeda dalam mendeteksi gangguan pendengaran pada anak. Pada dasarnya, orang tua harus mengerti bahwa skrining pendengaran menjadi hal yang wajib dilakukan pada anak mengingat keterbatasan anak untuk menjelaskan kondisinya secara detail. Selain itu, harus dipahami juga bahwa dalam perkembangannya, observasi orang tua juga dibutuhkan dalam mendeteksi gangguan pendengaran, terutama pada anak berusia 3-4 tahun yang semestinya mulai belajar berbicara.

dr. Zainal Adhim, Sp. THT-KL, Ph.D

Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala, dan Leher

RS Pondok Indah - Pondok Indah

Berita Terkini
Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri
Grand Opening RS Pondok Indah - Bintaro Jaya
Pembukaan Unit Extracorporeal Shock Wave Lithotrispy (ESWL)
Berbagi Informasi Kesehatan
Tangkal Campak Dan Rubella Dengan Imunisasi

RS PONDOK INDAH - BINTARO JAYA - PROMO VAKSIN KANKER SERVIKS GARDASIL

Menurut Yayasan Kanker Indonesia, jumlah pengidap kanker di Indonesia naik dari 17,8 juta jiwa (di tahun 2016) menjadi 21,7 juta jiwa (di tahun 2017), dengan kanker serviks sebagai penderita terbanyak. Padahal, kanker ini bisa dicegah dengan pemberian vaksin HPV. Berkomitmen untuk menjaga kesehatan Anda, RS Pondok Indah - Bintaro Jaya menyediakan ...

Vol 38