Kenali Rambut Rontok, Atasi Penyebabnya
14 December 2017

Kerontokan atau alopecia adalah proses hilangnya atau menipisnya folikel rambut dari kulit kepala. Pada dasarnya, rambut mengalami beberapa proses pertumbuhan. Fase anagen atau fase pertumbuhan di mana rambut banyak mulai tumbuh, memiliki durasi terlama, yaitu empat sampai enam tahun. Setelah itu, rambut mengalami fase katagen, atau fase transisi, sebelum mengalami fase telogen atau fase istirahat. Di saat inilah rambut biasanya mulai rontok.

Normalnya, seiring dengan usia, manusia mengalami aging (penuaan) yang dimulai saat usia 35 sampai 40 tahun. Proses aging ini tidak terjadi pada kulit saja, tapi juga pada kulit kepala dan rambut. Tidak hanya berupa munculnya uban, proses aging juga ditandai dengan kerontokan. Pada saat aging, jumlah folikel rambut berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Rambut yang tumbuh pun tidak memiliki diameter setebal sebelumnya.

Pada saat usia muda, rambut yang kita miliki disebut dengan rambut terminal, yang dapat dilihat dari diameter batang rambutnya yang tebal. Pada saat proses aging, terjadi shifting atau perpindahan dari rambut terminal ini menjadi rambut felus. Rambut felus memiliki diameter lebih kecil, berupa bulu-bulu halus serupa rambut yang tumbuh di bagian pipi. Oleh karena itu, seiring dengan bertambahnya usia, bukan hanya terlihat memudar warnanya menjadi lebih putih, kepadatan rambut juga berkurang karena diameternya menjadi lebih halus.

Penyebab kerontokan rambut

Selain karena pengaruh usia, proses kerontokan rambut juga bisa disebabkan oleh hal-hal lain, misalnya:

  1. Malnutrisi saat melakukan crash diet karena kekurangan nutrisi-nutrisi penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan rambut, misalnya zat besi,
  2. Psychological stress, misalnya pada orang yang punya kebiasaan menarik-narik rambut atau mencabut batang rambut atau disebut dengan kelainan trichotillomania,
  3. Kebiasaan menguncir atau mengepang rambut terlalu kuat,
  4. Pengaruh infeksi, yaitu pada saat kulit kepala mengalami radang yang bisa disebabkan oleh jamur dan bakteri. Pada saat mengalami radang, folikel rambut biasanya mudah mati. Tingkat keparahan radang menentukan apakah folikel rambut bisa tumbuh kembali atau benar-benar tidak bisa tumbuh (permanently loss).
  5. Penyakit tiroid (hipotiroid atau hipertiroid),
  6. Kesehatan kulit kepala. Ini juga turut mempengaruhi kebotakan rambut yang terjadi sebelum masa aging, yaitu adanya penumpukan kotoran dan bahan-bahan kimia saat melakukan styling dan/atau pewarnaan rambut, polutan, serta pemilihan produk yang tidak tepat untuk kulit kepala.
  7. Konsumsi obat-obatan, misalnya obat kemoterapi, obat terapi anti-acne, pil kontrasepsi, atau penggunaan oral corticosteroids dalam jangka waktu lama.
  8. Radiasi di sekitar kulit kepala juga bisa mengakibatkan rambut rontok, karena radiasi dapat mematikan folikel rambut
  9. Penyakit autoimun, misalnya SLE (systemic lupus erythematosus),
  10. Telogen effluvium. Pada kondisi ini, fase telogen atau fase istirahat menjadi lebih lama, sehingga kerontokan rambut tidak diiringi dengan adanya pertumbuhan rambut baru. Hal ini biasanya disebabkan oleh kondisi psikologis atau fisik seperti kelelahan, misalnya pasca melahirkan, atau pada masa penyembuhan pasca penyakit kronis.

Selain hal-hal di atas, pengaruh hormonal juga turut mempengaruhi proses pertumbuhan rambut. Pada wanita, pada masa kehamilan hingga menyusui, kadar hormon estrogen menurun sehingga dapat menyebabkan rambut rontok. Ada pula wanita yang mengalami hiperandrogen, yaitu produksi kelenjar minyak berlebih yang menyebabkan folikel rambut mengalami kerontokan. Hiperandrogen juga dapat terjadi pada pria. Selain itu, biasanya pria juga mengalami kerontokan yang disebabkan oleh faktor genetik.

Kerontokan pada pria dan wanita

Pria dan wanita biasanya memiliki kerentanan yang sama terhadap kerontokan dini, tergantung dari penyebabnya. Pada penyebab kerontokan hormonal pada laki-laki yang disebut dengan alopecia androgen, frekuensi laki-laki yang mengalami jenis kerontokan ini lebih banyak daripada wanita. Namun, ada pula wanita yang mengalami female alopecia androgen. Banyak orang salah mengira bahwa hormon androgen hanya terdapat pada pria saja, padahal hormon ini juga terdapat pada wanita. Peningkatan hormon ini atau hiperandrogen turut berperan dalam terjadinya rambut rontok. Kadar hormon androgen dalam darah yang meningkat membuat pengerasan di selongsong folikel rambut. Pengerasan ini membuat nutrisi yang masuk ke dalam rambut berkurang, sehingga mengakibatkan rambut rontok.

Pada wanita, kerontokan rambut lebih banyak disebabkan oleh lifestyle atau cara menata rambut sehari-hari. Bisa jadi produk yang digunakan tidak tepat atau higienitas pada perawatan rambut yang kurang baik. Hal ini dapat membawa peradangan di kulit kepala sehingga menyebabkan ekosistem di kulit kepala terganggu sehingga lebih rentan terhadap kerontokan.

Mengatasi kerontokan rambut

Sebelum memulai penanganan yang tepat untuk mengatasi kerontokan pada rambut, perlu dilakukan diagnosis terlebih dahulu untuk menentukan penyebabnya. Diawali dengan dokter memeriksa kondisi kulit kepala pasien, baik secara manual melalui kasat mata atau menggunakan alat yang disebut trichoscopy. Alat ini mampu mendapat visualisasi kesehatan kulit kepala dan folikel rambut pasien dengan lebih jelas. Dokter akan mampu menganalisa apakah kerontokan ini berhubungan dengan peradangan, atau hal lain, misalnya hormonal atau nutrisi.

Apabila penyebabnya adalah peradangan, dokter akan melakukan pengobatan yang sesuai. Obat oles akan diberikan jika kerontokan dianggap ringan, sedangkan obat minum biasanya diberikan apabila kerontokannya berat, kedua jenis obat ini bertujuan untuk mengendalikan peradangan.

Apabila kerontokan yang dialami berhubungan dengan malnutrisi, biasanya dokter akan meresepkan nutrisi-nutrisi esensial yang penting bagi kulit kepala, seperti vitamin A, C, E, Selenium, Zinc, vitamin B kompleks, atau Biotin.

Merawat kesehatan kulit kepala juga tidak kalah pentingnya. Untuk mengetahui jenis perawatan yang sesuai, kita harus dapat menilai termasuk tipe apakah kulit kepala kita, apakah termasuk tipe yang berminyak, kering, atau sensitif. Gunakan shampoo yang sesuai dengan jenis kulit kepala.

Saat mengalami kerontokan rambut, usahakan untuk tidak menggunakan produk berbahan kimia pada kulit kepala agar tidak memperparah keadaannya. Tunda pemakaian bahan pewarna rambut, smoothing, serta styling cream atau styling gel. Apabila digunakan dalam jangka panjang, maka produk berbahan kimia tersebut akan terakumulasi di kulit kepala dan dapat menyebabkan peradangan yang membuat kondisi kulit kepala lebih rentan terhadap kerontokan rambut.

dr. Suksmagita Pratidina, Sp. KK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

RS Pondok Indah - Pondok Indah

RS Pondok Indah - Bintaro Jaya

Berita Terkini
Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri
Grand Opening RS Pondok Indah - Bintaro Jaya
Pembukaan Unit Extracorporeal Shock Wave Lithotrispy (ESWL)
Berbagi Informasi Kesehatan
Tangkal Campak Dan Rubella Dengan Imunisasi

RS PONDOK INDAH - BINTARO JAYA - PROMO VAKSIN KANKER SERVIKS GARDASIL

Menurut Yayasan Kanker Indonesia, jumlah pengidap kanker di Indonesia naik dari 17,8 juta jiwa (di tahun 2016) menjadi 21,7 juta jiwa (di tahun 2017), dengan kanker serviks sebagai penderita terbanyak. Padahal, kanker ini bisa dicegah dengan pemberian vaksin HPV. Berkomitmen untuk menjaga kesehatan Anda, RS Pondok Indah - Bintaro Jaya menyediakan ...

Vol 38