Maloklusi pada Anak
08 February 2018

Pernah dengar tentang malokusi?

Maloklusi atau kadang dikenali dengan “kelainan gigitan” atau kelainan oklusi, merupakan suatu kondisi yang sering ditemukan pada gigi geligi anak, baik pada periode gigi susu/sulung, periode gigi bercampur, maupun pada periode gigi permanen.

Maloklusi terjadi akibat hubungan yang tidak harmonis atau tidak proporsional antara gigi atas dengan gigi bawah, gigi dengan rahang, maupun antara rahang atas dengan rahang bawah. Salah satu contohnya adalah susunan gigi geligi di rahang atas dan rahang bawah yang tidak beraturan, berjejal, posisi gigi gigi depan yang terlalu menonjol, dan lain-lain. Sehingga pada kondisi ini, gigi geligi akan terlihat berantakan.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya maloklusi pada anak, di antaranya:

  1. Faktor genetik, yaitu keturunan dari kedua orangtua atau kerabat dekat
  2. Kondisi patologis organ tertentu yang berhubungan dengan dengan rongga mulut, misalnya ada kelainan atau sakit di area hidung, telinga, atau tenggorokan
  3. Kebiasaan buruk (bad habit) anak seperti menghisap jempol (thumb sucking), menggigit kuku atau alat tulis, menghisap bibir bawah, serta bertopang dagu
  4. Kelainan tumbuh kembang gigi geligi, contohnya kelainan erupsi gigi (premature loss atau delayed eruption), kelainan jumlah gigi, kelainan posisi gigi (gigi impaksi atau salah letak), dan lain-lain

Jika ditemukan maloklusi pada anak, perawatan yang dianjurkan oleh dokter gigi bisa berupa perawatan preventif (jika ditemukan secara dini atau tahap maloklusi ringan); maupun perawatan yang bersifat korektif pada kasus sedang-berat.

Perawatan preventif bertujuan agar kondisi maloklusi yang sudah terjadi dapat terkoreksi sejak dini dan tidak berkembang menjadi lebih parah. Sedangkan perawatan korektif bertujuan untuk mengembalikan hubungan antara gigi atas dan bawah, gigi dan rahang, atau antara rahang atas rahang dan bawah, sehingga posisinya menjadi normal.

Salah satu metode perawatan korektif untuk kondisi maloklusi yaitu dengan perawatan orthodonti. Perawatan orthodonti pada anak bisa berupa penggunaan alat lepasan (removable orthodontic appliances) atau pun alat cekat (fixed orthodontic appliances). Alat orthodonti lepasan ini bisa digunakan mulai usia 6 sampai 12 tahun, baik pada periode gigi susu/sulung, atau periode gigi bercampur. Sedangkan, pada anak usia lebih dari 12 tahun, yaitu pada periode gigi permanen, perawatan yang umumnya digunakan ialah alat orthodonti cekat yang dikenal dengan braces atau behel.

Agar maloklusi pada anak dapat terdeteksi secara dini, sebaiknya anak melakukan pemeriksaan gigi rutin minimal setiap 4 bulan sekali. Pemeriksaan gigi ini bisa dimulai sejak anak berusia 1 tahun agar kesehatan gigi dan mulut anak selalu terjaga dengan baik, serta terbentuk perilaku positif anak terhadap perawatan gigi.

drg. Adi Putra, Sp. KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

RS Pondok Indah - Pondok Indah

Berita Terkini
Khitanan Massal RS Pondok Indah Group Di Bintaro Jaya
Tingkatkan Kepedulian Terhadap Kanker Payudara, RS Pondok Indah Selenggarakan Charity Run
RS Pondok Indah Group Apresiasi Dedikasi Para Dokter
RS Pondok Indah, Yayasan Puspita, Dan Perempuan Untuk Negeri Gelar Khitanan Massal Di Cisarua, Bogor
CSR HUT Ke-30 RS Pondok Indah Belajar Cuci Tangan, Belajar Lebih Sehat

RS PONDOK INDAH - BINTARO JAYA - PROMO VAKSIN KANKER SERVIKS GARDASIL

Menurut Yayasan Kanker Indonesia, jumlah pengidap kanker di Indonesia naik dari 17,8 juta jiwa (di tahun 2016) menjadi 21,7 juta jiwa (di tahun 2017), dengan kanker serviks sebagai penderita terbanyak. Padahal, kanker ini bisa dicegah dengan pemberian vaksin HPV. Berkomitmen untuk menjaga kesehatan Anda, RS Pondok Indah - Bintaro Jaya menyediakan ...

Vol 37