Bedah Bariatrik dan Komitmen Hidup Sehat Seumur Hidup
31 October 2018

Tak hanya sekedar mampu menurunkan berat badan pada pasien obesitas berat secara instan, bedah bariatrik juga mampu perbaiki metabolisme tubuh pasien dan mencegah terjadinya berbagai macam penyakit. Namun, dibutuhkan konsistensi dan komitmen kuat seumur hidup untuk menjalani tindakan ini.

 

“Saya tidak menyangka seperti ini, Dok.”

Ini adalah kalimat lirih yang keluar dari Nanette (bukan nama sebenarnya) sewaktu saya visit pasien saya ini. Nanette baru saja menjalani operasi bedah bariatrik untuk mengecilkan lambungnya menjadi berbentuk lengan panjang baju (sleeve) dengan maksud agar membatasi kemampuan makannya.

 

Dalam hati saya, saya berpikir, “Tapi saya sudah berulang kali mengatakan bahwa ia akan sulit minum dalam hari-hari pertama, seteguk saja akan terasa mengganjal.” Kemudian saya ingat kembali guru saya, Dr. Mufazzal Lakdawalla yang berkata, “No amount of explanation will prepare the patient of what he or she will endure post operatively.” Tidak ada penjelasan selengkap apapun yang akan membuat pasien siap tentang keadaan setelah operasinya. Tepat sekali apa yang dikatakan Dr. Mufazzal.

 

Nanette adalah gadis cantik eksotik usia 30-an tahun dengan hidung mancung dan alis tebal, keturunan asia tengah dan berdarah Indonesia Timur. Ia memiliki berat 145 kilogram dan sadar bahwa bila dibiarkan demikian maka berbagai penyakit akan menggerogoti dirinya dan (kemungkinan) meninggal lebih cepat dari teman seumurnya. Diabetes, hipertensi, sakit jantung koroner, stroke semua sudah menunggu di balik pintu.

 

Saya bertemu Nanette sebulan sebelumnya dan saya terangkan mengenai pilihan yang dapat dijalani. Hal yang sangat saya tekankan adalah bahwa bedah bariatrik bukanlah ‘peluru emas’, sekali tembak dan permasalahan selesai. Bedah bariatrik adalah perjuangan, hubungan kerja sama seumur hidup dengan tim bariatrik.

 

Tapi bayangkan, dengan pertolongan bedah bariatrik, Nanette dapat diharapkan akan turun hingga 50 kilogram dalam waktu enam bulan hingga 1 tahun. Sungguh hampir mustahil dicapai dengan diet saja. Diharapkan setelah turun berat badannya sedemikian banyak, maka Nanette akan mendapatkan ‘hidup baru’ dan akan lebih semangat membuat kebiasaan hidup baru yang akan menghantarkan dirinya hingga berat badan normal.

 

Tapi saat ini, hari ketiga sesudah operasi, Nanette menatap saya tanpa senyum dan berkata dengan matanya yang sayu, “Saya depresi, Dok, jangankan makan, menelan air putih saja harus bersabar.”

 

Saya pun menenangkannya, “Nanette, ini adalah perjuangan. Seperti juga saya dulu berjuang menjalani pendidikan ilmu bedah, bulan-bulan pertama sungguh tanpa harapan. But, please, look at the light at the end of the tunnel. Anda akan sampai di sana, percayalah. Lihatlah segi positifnya, apakah ada rasa lapar?

 

Nanette melihat saya dan berkata, “Tidak, Dok, tidak ada lapar sama sekali”. Ia pun menyunggingkan seulas senyum yang berarti. Saya tinggalkan Nanette dengan berpesan, “Keep drinking and keep walking, you will reach the light at the end of the tunnel eventually. Keep the faith.”

 

Mengenal bedah bariatrik

Bariatrik berasal dari kata Baros yang berarti ‘berat’ atau ‘besar’. Jadi, bariatrik adalah bagian ilmu bedah yang berkecimpung dalam penanganan pasien-pasien dengan berat badan berlebih. Dalam hal ini, ‘berlebih’ memiliki arti yang cukup mendalam. Bedah bariatrik diindikasikan pada pasien yang memiliki indeks massa tubuh (berat badan dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat) di atas 37,5 kg/m2.. Artinya bila seseorang dengan tinggi 165 sentimeter, maka BMI 37,5 adalah 102 kg. Dengan berat sedemikan, sungguh sulit untuk menurunkan berat hingga ke berat idealnya, yaitu 62 kilogram. Pasien itulah yang memerlukan bantuan pembedahan, yakni bedah bariatrik.

 

Mengapa pembedahan diperlukan?

Pasien dengan berat badan berlebih akan memiliki risiko yang jauh lebih besar untuk mengidap berbagai macam penyakit, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, infertilitas, dan banyak lagi lainnya. Harapan hidup seorang dengan obesitas morbid (obesitas parah) juga akan mengalami penurunan hingga sepuluh tahun dibandingkan teman-teman seusianya yang tidak memiliki berat badan berlebih.

 

Proses bedah bariatrik

Bedah bariatrik dikerjakan melalui berbagai cara, dengan cara yang paling sederhana, aman dan paling banyak dianut saat ini adalah secara sleeve gastrectomy. Sleeve gastrectomy, seperti namanya menunjukkan, adalah operasi di mana lambung ‘dilangsingkan’ menjadi berbentuk lengan panjang baju (sleeve).

 RS PONDOK INDAH GROUP

 

Dengan cara ini terjadi pembatasan jumlah makanan yang dapat dikonsumsi. Seiring dengan hal itu, jumlah hormon lapar/napsu makan (hormon Ghrelin) pun menurun. Hormon ini banyak diproduksi di bagian lambung yang dipotong dan tidak digunakan lagi.

 

Pasien obesitas morbid (obesitas yang parah) akan mengalami penurunan berat badan hingga 70 persen dari kelebihan berat badannya dalam waktu 6-12 bulan setelah operasi. Pada contoh kisah Nanette di atas, kelebihan berat badannya adalah 60 kilogram, sehingga dalam waktu 6-12 bulan diharapkan akan terjadi penurunan sebanyak 42 kilogram. Jumlah yang cukup mencengangkan, apalagi bila disadari bahwa penurunan itu jauh lebih menetap dibandingkan dengan metode diet konvensional yang seringkali menyebabkan fenomena yo-yo (fenomena di mana berat badan turun naik secara drastis).

 

Setiap pasien yang akan menjalani bedah bariatrik harus sadar bahwa bedah bariatrik adalah suatu alat bantu. Bedah bariatrik bukanlah suatu peluru emas, tiket jalan-jalan, karcis bioskop dimana pasien tinggal bayar sejumlah uang, duduk santai dan akan mendapatkan hasil (kurus, langsing). Menjalani bedah bariatrik adalah perjuangan dan komitmen seumur hidup antara pasien dengan tim bariatrik untuk mendapatkan berat badan ideal dan metabolisme tubuh yang baik. Metabolisme tubuh yang baik berarti tubuh dapat memproses gula dengan baik, mempertahankan tekanan darah yang normal, menjaga tingkat lemak tubuh dalam batas yang normal. Semua aspek metabolisme tubuh biasanya akan mengalami perbaikan setelah pembedahan bariatrik.

 

Bedah bariatrik saat ini mengalami kemajuan pesat sejak mulai digunakan pada tahun 1960-an. Jenis-jenis bedah bariatrik meliputi belasan hingga puluhan cara. Masing-masing cara memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing dan memiliki karakteristik yang cocok untuk pasien-pasien tertentu. Dengan kegemukan yang cukup parah, maka tingkat infeksi pada luka operasi yang dilakukan secara terbuka (sayatan besar) akan cukup tinggi. Fakta ini mendorong agar pembedahan bariatrik dilakukan dengan cara laparoskopi. Dengan cara ini, operasi dilakukan melalui lubang-lubang kecil (paling besar 12 milimeter). Bekas luka sayatan operasi pun jadinya kecil.

 

Indikasi untuk tindakan bedah bariatrik

Bagaimana bila berat belum mencapai indeks massa tubuh 37,5? Indikasi lain pembedahan bariatrik adalah bila indeks massa tubuh 32,5 dengan penyakit penyerta dan gangguan metabolisme seperti diabetes, hipertensi, hiperkolesterolemia, artritis. Bila diabetes merupakan suatu masalah yang cukup mengganggu, maka pasien cenderung akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan cara operasi bedah bariatrik roux en y gastric bypass. Cara pembedahan ini akan menyebabkan perubahan metabolisme hormonal sehingga produksi hormon insulin meningkat, kebutuhan menurun. Tidak jarang, sesudah operasi, pasien dengan insulin akan tiba-tiba menjadi lepas dari insulin.

 

Risiko bedah bariatrik

Semua tindakan medis akan memiliki risiko. Untuk bedah bariatrik, seperti operasi lainnya di dalam perut, memiliki risiko walaupun risiko yang mungkin terjadi sangat kecil. Mengingat hal di atas semua, pasien harus benar-benar berkomitmen kuat untuk menjalani operasi ini dan menjalani perawatan serta latihan pascaoperasi, untuk konsisten mempertahankan kesehatannya.

 

Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp. B-KBD

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif

RS Pondok Indah – Pondok Indah

Berita Terkini
Solusi Minimal Invasive Untuk Penanganan Masalah Kesehatan
Wajah Baru Women & Fetal Diagnostic Center Dan Klinik Anak RS Pondok Indah – Pondok Indah
Mom’s Gathering RS Pondok Indah Group
Deteksi Dini Skoliosis
Hindari Cedera Bahu Dan Kaki Akibat Olahraga

RS PONDOK INDAH GROUP - COMPLIMENTARY NEWBORN PHOTO SESSION BY BABY AXIOO

Peristiwa kelahiran sang buah hati tentunya adalah momen istimewa yang tak terlupakan. Abadikan kenangan terindah momen kelahiran si kecil bersama Baby Axioo. Dapatkan sesi foto dan merchandise cantik dari Baby Axioo, gratis untuk Anda yang melahirkan di semua rumah sakit RS Pondok Indah Group. Penawaran istimewa ini berlaku untuk Anda yang melah...

Vol 40