Mitos dan Fakta Kesehatan Ginjal Anak
08 September 2020

Hati-hati, penyakit ginjal ternyata tak hanya menyerang orang lanjut usia saja. Tetapi bisa juga menyerang anak-anak. Yuk, cari tahu lebih lanjut informasi mengenai penyakit ginjal pada anak berikut ini.

Kesehatan ginjal anak merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas dan dipelajari karena banyak mitos yang beredar di masyarakat yang belum kita ketahui kebenarannya.

1. Penyakit ginjal kronik hanya dapat terjadi pada orang dewasa

Kidney Care UK, The Renal Association (2017) menyebutkan bahwa penyakit ginjal kronik pada dewasa memang merupakan masalah kesehatan yang umum, yaitu ditemukan pada 10 persen dari populasi dewasa di seluruh dunia. Namun,data dari sumber yang sama juga menyebutkan bahwa sekitar 20-60 anak per 1 juta populasi anak di seluruh dunia mengalami penyakit ginjal kronik. Data lebih lanjut dari Gulati S (2020) menyebutkan 70 persen dari populasi anak yang menderita penyakit ginjal kronik mengalami gagal ginjal sebelum mereka mencapai usia 20 tahun.

Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (2017) menyebutkan bahwa 212 anak menjalani terapi pengganti ginjal di 14 rumah sakit pendidikan akibat gagal ginjal. Penyakit ginjal kronik pada anak umumnya disebabkan oleh kelainan bawaan dari lahir pada ginjal dan saluran kemih serta glomerulonefritis, yaitu radang pada pembuluh darah kecil di ginjal.

Jadi, tidak benar bahwa penyakit ginjal kronik hanya dapat terjadi pada orang dewasa. Walaupun jumlahnya jauh lebih sedikit, namun penyakit ginjal kronik juga dapat terjadi pada anak.

2. Penyakit ginjal kronik dapat disembuhkan dengan cuci darah (dialisis)

‘Cuci darah’ merupakan istilah yang sering digunakan oleh masyarakat untuk mendeskripsikan pengobatan pada penyakit ginjal. Namun, istilah ‘cuci darah’ ini sebaiknya tidak lagi digunakan dan dapat digantikan dengan istilah sebenarnya, yaitu dialisis. Penggunaan istilah ‘cuci darah’ sering menjadi stigma yang negatif, bahkan menyebabkan rasa takut pada orang yang mengalami penyakit ginjal kronik dan yang harus menjalani pengobatan.

Dialisis merupakan terapi pengganti ginjal pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, terutama yang fungsi ginjalnya menurun hingga kurang dari 20 persen. Dialisis dapat dilakukan dengan menggunakan mesin (hemodialisis) atau dengan cairan yang dimasukkan melalui selang lewat rongga perut (dialisis peritoneal).

Studi yang berjudul Mortality Risk among Children Initially Treated with Dialysis for End-Stage Kidney Disease menunjukkan bahwa dialisis pada anak dengan penyakit ginjal kronik dapat menurunkan angka kematian. Tetapi kita perlu memahami bahwa pada anak dengan gagal ginjal, terapi pengganti ginjal yang paling utama adalah dengan cangkok atau transplantasi ginjal.

Dialisis bukanlah pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ginjal kronik, melainkan berperan sebagai terapi sementara sambil menunggu transplantasi ginjal dapat dilakukan kepada pasien.

Transplantasi ginjal adalah tindakan pembedahan untuk mengganti ginjal yang sakit dengan ginjal yang sehat dari seorang donor. Studi terbaru dari Clinical Journal of the American Society of Nephrology yang berjudul Survival after Kidney Transplantation during Childhood and Adolescence (2020) memaparkan bahwa berkat transplantasi ginjal, tingkat kematian pada anak dengan penyakit ginjal kronik menurun sebanyak 72 persen selama periode tahun 2005–2015. Di Indonesia, transplantasi ginjal pada anak dengan penyakit ginjal kronik sudah dapat dilakukan walaupun jumlahnya masih terbatas, yaitu 15 anak sepanjang tahun 2013–2019.

Kesimpulannya, penyakit ginjal kronik tidak dapat disembuhkan. Namun, fungsi ginjal yang rusak dapat digantikan dengan berbagai cara, seperti dialisis sebagai terapi sementara dan transplantasi ginjal sebagai terapi yang paling utama.

3. Batu ginjal hanya dapat terjadi pada orang dewasa

Batu ginjal umumnya terjadi pada orang dewasa, namun bukan berarti tidak bisa terjadi pada anak-anak. Sebuah studi menunjukkan bahwa di Eropa, batu ginjal ditemukan pada 1-2 anak per 1 juta populasi manusia per tahun. Sementara di Amerika, 1 dari 685 anak yang dirawat inap di rumah sakit adalah akibat masalah batu ginjal.

Anak-anak terkena batu ginjal pada umumnya terjadi karena pola makan yang banyak mengandung garam, kurang minum air putih, dan banyak mengonsumsi minuman manis atau kopi. Selain itu, batu ginjal pada anak dapat juga disebabkan karena kelainan bawaan pada ginjal dan saluran kemih serta penyakit kelainan bawaan lainnya.

Gejala batu ginjal pada anak meliputi nyeri pada pinggang, perut bawah, atau area dekat kemaluan; nyeri saat berkemih; urin berwarna merah atau coklat; urin yang keruh atau berbau; dan rewel pada bayi. Mual, muntah, demam, atau menggigil juga dapat ditemukan pada anak dengan batu ginjal.

Jadi, tidak benar bahwa batu ginjal hanya dapat terjadi pada orang dewasa. Apabila terdapat gejala-gejala tersebut di atas pada anak Anda, segeralah periksakan si kecil ke dokter spesialis anak atau ke dokter subspesialis ginjal anak.

4. Penyakit ginjal kronik pada anak disebabkan oleh konsumsi minuman kemasan

Studi Rebholz CM dkk. berjudul Patterns of Beverages Consumed and Risk of Incident Kidney Disease (2019) menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengonsumsi minuman kemasan yang rasanya manis akan meningkatkan risiko terkena penyakit ginjal kronik. Pada anak, hal ini belum terbukti.

Pada dasarnya, kebutuhan air pada anak lebih besar dari orang dewasa, sehingga sangat penting bagi orangtua untuk memastikan konsumsi air yang cukup untuk anaknya. Kebutuhan air pada anak sehat akan bertambah dengan peningkatan umur, seperti dirangkum pada tabel di bawah ini. 

Kelompok usia

Minimum konsumsi air yang diperlukan untuk laki-laki (mL/hari)

Minimum konsumsi air yang diperlukan untuk perempuan (mL/hari)

0–6 bulan

300–700

300–700

7–12 bulan

800–1000

800–1000

1–3 tahun

1000–1300

1000–1300

4–8 tahun

1300–1700

1300–1700

9–13 tahun

1700–2400

1700–2100

14–18 tahun

2400–3300

2100–2500

Ikatan Dokter Anak Indonesia, Konsensus Kebutuhan Air pada Anak Sehat, 2016.

Konsumsi air ini dapat berasal dari air putih, susu, minuman kemasan, dan jus. Namun, minuman yang manis perlu dibatasi karena konsumsi minuman bergula dalam jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan obesitas. Khusus bagi bayi dan anak usia kurang dari dua tahun, sebaiknya tidak mendapat tambahan gula dalam minuman dan makanannya. Selain itu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, minum minuman manis yang tidak diimbangi dengan minum air putih dapat meningkatkan risiko terkena batu ginjal pada anak.

5. Suplementasi multivitamin dapat menyebabkan gagal ginjal pada anak

Belum ada studi yang menunjukkan bahwa penggunaan multivitamin dapat menyebabkan gagal ginjal pada anak. Suplementasi pada anak umumnya diberikan oleh dokter spesialis anak pada anak dengan gangguan pola makan, dengan kondisi defisiensi zat nutrien tertentu, atau dengan penyakit ginjal kronik.

Namun orangtua harus memastikan agar vitamin tersebut tidak dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. Vitamin ada yang diproses oleh ginjal dan ada pula yang diproses oleh hati. Oleh sebab itu, penelitian dari Kerr G. berjudul Symptoms of Vitamin Overdose in Children (2020) menyebutkan bahwa mengonsumsi vitamin yang berlebihan dapat memperberat beban kerja organ ginjal maupun hati. Akibatnya dalam jangka panjang, fungsi kedua organ tersebut dapat terganggu.

Gejala kelebihan vitamin mencakup mual, diare, sakit kepala, kram perut, dan sebagainya. Konsultasikan penggunaan suplementasi multivitamin anak dengan dokter spesialis anak Anda.

6. Bayi laki-laki tidak boleh disirkumsisi

American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa khitan atau sirkumsisi pada bayi laki-laki, terutama saat baru lahir, memiliki angka komplikasi yang lebih rendah dibandingkan jika dilakukan saat anak sudah besar. Keuntungan yang didapat dari sirkumsisi pada bayi laki-laki terutama adalah menurunnya angka infeksi saluran kemih. Selain itu, risiko terkena fimosis pada bayi yang sudah disirkumsisi jauh lebih rendah.

Fimosis adalah keadaan di mana kulup pada ujung penis tidak dapat ditarik ke atas dengan mudah dari sekitar ujung penis. Fimosis ini dapat menyebabkan penumpukan kotoran dan bakteri di bawah kulit yang sulit untuk dibersihkan, sehingga berisiko untuk terjadinya infeksi saluran kemih. Dari segi medis, fimosis menjadi indikasi untuk sirkumsisi lebih dini pada bayi atau anak, jika infeksi saluran kemih sudah terjadi berulang. Jadi, sirkumsisi pada bayi laki-laki justru membawa lebih banyak manfaat. Namun keputusan untuk sirkumsisi ini, apakah akan dilakukan saat usia bayi atau saat anak sudah lebih besar, tentu saja kembali lagi kepada Anda sebagai orang tua.

Demikian fakta-fakta yang dapat ditelaah dari mitos yang berkembang mengenai kesehatan ginjal pada anak. Semoga bermanfaat bagi para orangtua dan menjadikan informasi ini sebagai sumber pegangan yang benar.

[Penulis kontributor: dr. Angela Grace]

 

Narasumber:

dr. Cahyani Gita Ambarsari, Sp.A (K)

Dokter Spesialis Anak Konsultan Ginjal/Nefrologi

RS Pondok Indah – Bintaro Jaya

Latest News
RS Pondok Indah – Pondok Indah Meraih Penghargaan IBCLC Care Award 2020
Seminar "Cone Beam Computed Tomography: Digital Dentistry Is The Future"
Solusi Minimal Invasive Untuk Penanganan Masalah Kesehatan
Wajah Baru Women & Fetal Diagnostic Center Dan Klinik Anak RS Pondok Indah – Pondok Indah
Mom’s Gathering RS Pondok Indah Group

RS PONDOK INDAH - PONDOK INDAH - EXECUTIVE HEALTH CHECK UP GIFT CERTIFICATE

...

Vol 44