Apakah Epilepsi Menular? Cek Jawabannya di Sini

By Tim RS Pondok Indah

Monday, 17 March 2025

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Epilepsi bukanlah penyakit menular yang bisa ditularkan antar orang. Namun, penyakit ini bisa diturunkan melalui faktor genetik. Cek informasi lengkapnya di sini!

Apakah Epilepsi Menular? Cek Jawabannya di Sini

Epilepsi adalah kondisi di mana seseorang mengalami kejang berulang. Kondisi ini tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Kejang yang muncul berasal dari gangguan pada sel otak sehingga menyebabkan penderitanya kejang kelojotan dan kehilangan kesadaran.


Apakah Epilepsi Menular?

Epilepsi tidak termasuk penyakit infeksi. Jadi, epilepsi bukanlah penyakit yang menular. Meski belum diketahui penyebab utamanya hingga saat ini, epilepsi diketahui terjadi akibat adanya aktivitas listrik abnormal pada sel otak yang memicu tubuh mengalami kejang bahkan sampai hilang kesadaran.


Sekitar 30-40% kasus epilepsi disebabkan oleh faktor keturunan. Jadi, orang tua atau kakek dan nenek dengan riwayat epilepsi, bisa menurunkan kondisi ini ke anak maupun cucunya. Risiko seseorang menderita epilepsi meningkat menjadi 2-4 kali lipat jika anggota keluarga menderita kondisi serupa.


Baca juga: Mengenal Berbagai Jenis Kejang Epilepsi dan Perbedaannya



Apakah Penyakit Epilepsi Mematikan?

Ya, epilepsi bisa menjadi kondisi yang mematikan dan menyebabkan penderitanya kehilangan nyawa. Kejang yang terjadi saat tidur bisa menyebabkan penderitanya mengalami henti napas, yang dikenal dengan istilah apnea. Bila jeda ini berlangsung terlalu lama, penderita bisa kekurangan oksigen dalam darah.


Seorang penderita epilepsi juga bisa meninggal dalam keadaan lemas jika saluran napasnya tertutup atau terhambat. Kejang pun bisa menyebabkan detak jantung sangat lambat sehingga penderita penyakit ini kesulitan bernapas.


Oleh karena itu, penyakit epilepsi perlu mendapatkan penanganan dan pengobatan sedini mungkin. Tujuannya adalah untuk meringankan gejala dan mengurangi kekambuhan kejang yang berbahaya. 

Contohnya, mengalami kejang saat menyetir mobil atau motor, sedang berenang, mendaki gunung, atau melakukan olahraga ekstrim, seperti panjat tebing.


Munculnya kejang secara tiba-tiba tanpa pendampingan dari orang yang mengetahui bahwa Anda mengidap epilepsi justru bisa mencelakai, bahkan membahayakan nyawa. Misalnya, kejang muncul saat menyetir bisa menyebabkan Anda mengalami kecelakaan atau kejang muncul saat berenang bisa menyebabkan Anda tenggelam, bahkan meninggal.


Untuk itu, sangat penting menjalani konsultasi dengan dokter spesialis neurologi di RS Pondok Indah cabang terdekat bila Anda memiliki gejala penyakit epilepsi atau memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. 


Walau tidak bisa disembuhkan, pengobatan sedini mungkin bisa meringankan gejala epilepsi serta mengontrol kekambuhan kejang yang mungkin muncul kapan saja.


Baca juga: Kenali Gejala Awal Kanker Otak Sebelum Semakin Parah


Penanganan Pertama Epilepsi

Melihat seseorang mengalami kejang mungkin bisa membuat Anda panik. Namun, berusahalah tetap tenang dan lakukan pertolongan pertama epilepsi, seperti berikut ini:


  • Tetap bersama dengan penderita epilepsi ketika ia mengalami kejang
  • Jaga agar posisi penderita agar tetap aman, misalnya terjatuh atau kepalanya terbentur dinding
  • Letakkan sesuatu yang empuk untuk mengganjal leher
  • Kendurkan pakaian penderita, misalnya melonggoarkan ikat pinggangnya maupun kancing kerah
  • Setelah kejang selesai, miringkan tubuh penderita agar makanan atau cairan yang berada di mulutnya tidak masuk ke tenggorokan dan membuat pasien tersedak
  • Cobalah untuk mengembalikan kesadaran penderita, misalnya dengan memanggil nama atau menyapa pasien
  • Jangan memasukkan apa pun ke dalam mulutnya atau memindahkan tubuh penderita saat kejang muncul, kecuali jika pasien dalam bahaya


Baca juga: Jangan Sampai Epilepsi Mengganggu Perkembangan Si Buah Hati


Terapi Epilepsi

Epilepsi memang bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan. Namun, kekambuhan kejang yang dialami oleh penderita bisa dikontrol dengan baik setelah mendapatkan pengobatan dan penanganan yang tepat dari dokter spesialis neurologi. Berikut ini adalah beberapa terapi epilepsi yang akan dokter lakukan, yaitu:


  • Pemberian obat-obatan antikejang, untuk mencegah kambuhnya kejang
  • Meminta pasien menerapkan diet ketogenik, yakni jenis pola makan tinggi lemak, rendah karbohidrat, dan cukup protein
  • Melakukan operasi otak di area yang menyebabkan epilepsi
  • Melakukan terapi psikologis agar kesehatan mental pasien tetap terjaga
  • Meminta pasien untuk menerapkan gaya hidup sehat, seperti tidur cukup, kelola stres dengan baik, mengurangi berat badan dan rutin berolahraga, serta menghindari pemicu kejang, seperti cahaya terang


Berdasarkan penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa epilepsi bukanlah penyakit menular melalui kontak fisik. Namun, seseorang bisa berisiko tinggi mengalami penyakit ini apabila ada anggota keluarga yang memiliki riwayat epilepsi.


Epilepsi perlu ditangani dengan tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi, bahkan kematian. Jadi, segera lakukan konsultasi ke dokter spesialis neurologi di RS Pondok Indah cabang terdekat jika memiliki riwayat keluarga yang mengidap epilepsi atau mengalami kejang tanpa sebab yang jelas.


Baca juga: Multiple Sclerosis: Penyakit Autoimun yang Merusak Saraf



FAQ


Kenapa Orang Bisa Terkena Epilepsi?

Penyebab orang terkena epilepsi bervariasi, termasuk faktor genetik, cedera otak, kerusakan otak, infeksi (seperti meningitis), tumor otak, atau kelainan perkembangan otak. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan atau paparan racun tertentu juga bisa menyebabkan epilepsi. Namun, pada beberapa kasus, penyebab spesifik epilepsi sulit ditentukan.


Apa yang Harus Dihindari Orang Epilepsi?

Penderita epilepsi disarankan untuk menghindari berbagai pemicu yang dapat memicu kejang, seperti:


  • Stres berlebihan
  • Konsumsi alkohol
  • Kilatan cahaya
  • Aktivitas dengan intensitas berat atau ekstrem


Selain itu, kejang epilepsi juga berpotensi terjadi kapan saja dan membahayakan penderita. Oleh sebab itu, penderita epilepsi sebisa mungkin memperhatikan lingkungan sekitar dan menghindari situasi berbahaya, seperti berenang tanpa pengawasan.


Apa yang Memicu Epilepsi Kambuh?

Kekambuhan epilepsi dapat dipicu oleh banyak hal, seperti:


  • Stres emosional maupun fisik yang berat
  • Kurang tidur atau pola tidur yang tidak teratur
  • Paparan cahaya berkedip atau flash, terutama pada penderita epilepsi fotosensitif


Pemicu kejang epilepsi dapat berbeda-beda bagi setiap individu. Untuk dapat mengelola kondisi Anda dengan lebih baik, konsultasikanlah dengan dokter spesialis neurologi.


Apakah Penyakit Epilepsi Bisa Diterapi?

Penyakit epilepsi dapat diterapi agar gejalanya lebih terkontrol. Namun sayangnya, epilepsi tidak selalu bisa disembuhkan sepenuhnya. Kebanyakan penderita epilepsi dapat hidup normal bebas kejang dengan terapi obat yang tepat. Namun, bila obat-obatan kurang efektif, dokter spesialis neurologi mungkin menyarankan metode terapi yang lain, termasuk pembedahan.


Apa Saja Terapi Epilepsi?

Terapi epilepsi meliputi beberapa pendekatan untuk mengontrol kejang, yakni:


  • Terapi obat dengan obat anti-epilepsi (AED)
  • Terapi diet, seperti diet ketogenik dan diet Atkins
  • Stimulasi saraf vagus (Vagus Nerve Stimulation)


Selain itu, terapi psikologis, seperti konseling, juga dapat mendukung kesehatan mental penderita epilepsi.



Referensi:

  1. Rastin C, Schenkel LC, et al,. Complexity in genetic epilepsies: a comprehensive review. International journal of molecular sciences. 2023. (https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10572646/). Diakses pada 19 Februari 2025.
  2. Centers for Disease Control and Prevention. Sudden unexpected death in epilepsy (https://www.cdc.gov/epilepsy/sudep/index.html). Direvisi terakhir 15 Mei 2024. Diakses pada 19 Februari 2025.
  3. World Health Organization. Epilepsy. (https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/epilepsy). Direvisi terakhir 7 Februari 2024. Diakses pada 19 Februari 2025.
  4. Cleveland Clinic. Common Cold. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12342-common-cold). Direvisi terakhir 7 Februari 2023. Diakses pada 19 Februari 2025.
  5. Cleveland Clinic. Epilepsy. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17636-epilepsy). Direvisi terakhir 11 Maret 2022. Diakses pada 19 Februari 2025.
  6. Mayo Clinic. Epilepsy. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/symptoms-causes/syc-20350093). Direvisi terakhir 14 Oktober 2023. Diakses pada 19 Februari 2025.