Cegah GERD dengan makan porsi kecil, hindari makanan asam dan pedas, jangan berbaring setelah makan, kurangi kafein, serta pertahankan berat badan ideal.
Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan kondisi naiknya asam lambung ke kerongkongan. Kondisi ini terjadi ketika klep yang berada di antara kerongkongan dan lambung tidak berfungsi dengan baik. GERD biasanya dialami oleh Anda yang memiliki pola makan tidak teratur. Terjadinya pun bisa kapan saja, baik siang maupun malam hari. Ketika perut kosong dalam waktu yang cukup lama, ketika itulah risiko terjadinya GERD menjadi besar.
Karenanya, orang di usia produktif dengan aktivitas harian yang sangat padat sehingga jadwal makan kerap terlupakan, menjadi kelompok yang banyak mengalami GERD.
Ketika GERD terjadi, ada beberapa gejala yang timbul:
Menerapkan beberapa perilaku berikut ini dalam keseharian dapat memperkecil risiko terjadinya GERD.
Biasakan beri jeda antara makan dengan tidur setidaknya dua hingga tiga jam. Saat berbaring, isi perut akan naik ke saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan perut (esofagus). Memberi jeda antara makan dengan tidur dapat meminimalisir risiko terjadinya hal tersebut.
Saat bangun tidur, perut dalam kondisi kosong. Pada saat ini, hindari mengonsumsi makanan yang dapat menyebabkan peningkatan produksi gas lambung berlebihan. Misalnya saja dairy products (aneka makanan berbahan dasar susu sapi).
Makan lima kali sehari dalam porsi sedikit lebih baik dibanding makan tiga kali sehari dalam porsi besar. Apalagi mengonsumsi makanan dalam jumlah besar menjelang tidur. Perilaku ini dapat membuat perut kencang dan mendorong makanan serta asam lambung ke esofagus.
Mengonsumsi makanan seperti cokelat, buah jeruk dan jusnya, permen, hasil olahan tomat, makanan yang digoreng, berlemak, pedas, mengandung bawang putih, bawang bombai, alkohol, teh, kopi, dan minuman berkarbonasi dapat memicu terjadinya GERD.
Walau begitu, reaksinya pada tiap-tiap orang dapat berbeda. Karenanya, biasakan membaut food diary untuk membantu mengetahui jenis makanan atau minuman yang memicu GERD pada tubuh Anda.
Tidak hanya dapat menyebabkab kanker dan mengganggu kesehatan jantung, merokok juga dapat meningkatkan produksi asam lambung.
Obesitas memiliki hubungan yang erat dengan GERD. Ketika mengalami obesitas, tekanan pada area perut menjadi lebih kuat. Hal ini dapat membuat makanan dan asam lambung lebih mudah naik ke esofagus.
Aspirin, ibuprofen, dan naproxen merupakan jenis obat yang perlu dihindari. Selalu berkonsultasi kepada dokter terkait penggunaan obat.
Stres menjadi salah satu pemicu timbulnya GERD. Kurangi stres dengan berbagai latihan, seperti yoga, meditasi, atau melakukan olahraga yang Anda senangi.
Pakaian yang ketat dapat menekan perut sehingga mendorong makanan dan asam lambung naik ke esofagus.
Ketika mengalami gejala-gejala yang mengindikasikan GERD, hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik. Stres hanya akan meningkatkan produksi asam lambung. Selain itu, untuk penanganan sementara, obat-obatan seperti antacid atau sirup untuk pencernaan yang banyak dijual di pasaran dapat menjadi pilihan.
Penanganan yang baik, terutama pada tahap awal, diperlukan agar tidak menimbulkan gejala yang semakin serius, seperti:
Saat mengalami kondisi seperti itu, segera berkonsultasi pada dokter. Untuk pemeriksaan terkait GERD, terkadang dokter perlu melakukan endoskopi, pemeriksaan menggunakan kamera kecil yang dimasukkan melalui mulut untuk melihat kondisi kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari. Pemeriksaan ini diperlukan jika penderita tidak mengalami gejala khas GERD. Endoskopi dapat dilakukan berulang jika ditemukan iritasi berulang atau terjadi perubahan lapisan di kerongkongan.
Setelah terdiagnosis GERD, barulah kemudian terapi penanganan dilakukan. Terapi ini biasanya berlangsung satu hingga dua bulan. Pada masa ini, penting bagi pasien untuk menjalankan anjuran dokter dengan baik agar GERD dapat ditangani hingga tuntas. Selalu terapkan pola hidup sehat agar GERD tidak kambuh setelahnya.