Mengenal Berbagai Jenis Kejang Epilepsi dan Perbedaannya

By Tim RS Pondok Indah

Monday, 17 March 2025

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Tidak semua penderita epilepsi mengalami episode kejang yang sama. Kenali berbagai jenis kejang epilepsi yang dapat terjadi serta perbedaan gejalanya di sini!

Mengenal Berbagai Jenis Kejang Epilepsi dan Perbedaannya

Epilepsi merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan kecenderungan penderitanya untuk mengalami kejang berulang. Sebagian penderita epilepsi mungkin mengalami penurunan kesadaran atau bahkan kehilangan kesadaran saat kejang. Namun, sebagian lainnya tetap tersadar meski sedang mengalami kejang.


Tidak semua penderita epilepsi mengalami episode kejang yang sama. Berdasarkan lokasi kelainan di otak dan keparahan kondisi, ada beberapa jenis kejang yang dapat dialami oleh penderita epilepsi, dan masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda.


Apa Itu Kejang Epilepsi?

Kejang adalah perubahan mendadak dalam fungsi otak yang bisa mempengaruhi kesadaran, gerakan, atau perilaku. Pada penderita epilepsi, kejang terjadi akibat pelepasan impuls listrik yang tidak terkoordinasi di otak.


Seseorang dapat mengalami kejang selama beberapa detik hingga beberapa menit, dan gejalanya bisa bervariasi tergantung pada area otak yang terlibat.


Baca juga: Kenali Gejala Awal Kanker Otak Sebelum Semakin Parah



Jenis Kejang Epilepsi Umum

Epilepsi umum terjadi ketika aktivitas listrik abnormal muncul di kedua sisi otak pada saat yang bersamaan. Penderita epilepsi umum dapat mengalami beberapa jenis kejang berbeda, yakni:


1. Kejang absans

Kejang absans, atau petit mal, lebih banyak dialami oleh anak-anak. Epilepsi dengan kejang absans mungkin akan melakukan gerakan kecil, seperti bibir bergetar, atau tampak melamun maupun memiliki tatapan kosong selama beberapa detik, tanpa respon terhadap lingkungan sekitar.


2. Kejang tonik

Kejang tonik adalah tipe kejang epilepsi yang paling dikenal dan sering terlihat dalam film atau media. Jenis kejang ini dimulai dengan fase tonik, di mana otot-otot tubuh menegang, diikuti oleh fase klonik, di mana terjadi gerakan berulang dari otot.

Mereka yang mengalami kejang tonik bisa jatuh, terutama bisa posisinya sedang berdiri saat terjadi episode kejang, karena otot tubuh menjadi kaku.


3. Kejang klonik

Kejang ini ditandai dengan gerakan tubuh yang berulang dan tidak terkendali, misalnya tangan atau kaki berkedut.


4. Kejang tonik-klonik

Kejang ini dibedakan menjadi dua fase, yakni kejang tonik terjadi ketika otot tubuh kaku dan menyebabkan pasien terjatuh. Sementara fase klonik terjadi ketika tubuh kejang-kejang (kelojotan) disertai dengan hilang kesadaran, lidah tergigit, atau ngompol.


5. Kejang Mioklonik

Kejang mioklonik disertai dengan gerakan tersentak mendadak pada satu atau beberapa bagian tubuh.


6. Kejang Atonik

Jenis epilepsi ini akan menyebabkan otot-otot tubuh jadi lebih rileks, sehingga tubuh atau kepala jatuh atau terkulai.


Baca juga: Jangan Sampai Epilepsi Mengganggu Perkembangan Si Buah Hati


Jenis Kejang Epilepsi Fokal

Epilepsi fokal atau parsial terjadi ketika aktivitas listrik abnormal muncul hanya pada satu area tertentu di otak. Penderita epilepsi fokal atau parsial dapat mengalami beberapa jenis kejang berbeda, yakni:


1. Kejang Parsial Sederhana

Kejang parsial sederhana umumnya tidak mempengaruhi kesadaran. Namun, penderita mungkin mengalami gejala fisik seperti gerakan tidak terkendali pada bagian tubuh tertentu, perubahan sensasi, atau perasaan aneh.


2. Kejang Parsial Kompleks

Jenis kejang ini menyebabkan perubahan kesadaran atau keadaan kesadaran. Penderita mungkin tampak bingung atau tidak responsif, dan dapat melakukan gerakan otomatis, seperti menggerakkan tangan atau mulut tanpa tujuan.


Setiap tipe kejang epilepsi memiliki karakteristik yang berbeda. Pemahaman akan perbedaan masing-masing tipe kejang sangatlah penting untuk membantu proses pertolongan pertama dan nantinya, untuk mendukung proses diagnosis oleh dokter.


Jika Anda atau orang terkasih diduga mengalami kejang epilepsi, jangan menunda, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis neurologi di RS Pondok Indah cabang terdekat untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang sesuai.


Kondisi ini memang tidak bisa disembuhkan, tetapi penanganan yang tepat, baik melalui pengobatan maupun terapi, sangat penting untuk mencegah kambuhnya kejang dan meningkatkan kualitas hidup penderita epilepsi.


Baca juga: Kenali dan Tangani Cerebral Palsy untuk Memaksimalkan Kualitas Hidup Penderitanya



FAQ


Apa Bedanya Epilepsi dan Kejang?

Epilepsi adalah gangguan neurologis kronis yang ditandai oleh kecenderungan untuk mengalami kejang berulang. Kejang sendiri merupakan manifestasi klinis dari aktivitas listrik yang tidak normal di otak.


Tidak semua kejang berarti seseorang menderita epilepsi. Kejang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti demam, cedera kepala, atau kondisi medis lainnya. Dalam konteks ini, epilepsi adalah diagnosis jangka panjang yang mencakup banyak episode kejang, sedangkan kejang bisa menjadi satu kejadian yang terpisah.


Apa Perbedaan Kejang Tonik dan Klonik?

Kejang tonik ditandai dengan kekakuan otot yang mendadak, di mana tubuh mengencang dan tetap kaku selama beberapa detik hingga menit. Sebaliknya, kejang klonik ditandai dengan gerakan berulang dari otot-otot yang berkontraksi dan relaksasi, sering kali terlihat seperti gemetar. Kejang klonik dapat terjadi setelah fase tonik, tetapi tidak selalu.


Apakah Kejang Tanpa Demam Disebut Epilepsi?

Kejang tanpa demam tidak selalu berarti seseorang menderita epilepsi, tetapi dapat menjadi indikasi adanya kondisi tersebut. Jika seseorang mengalami kejang tanpa demam dan kondisi tersebut berulang, maka ia disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis neurologi untuk diagnosis lebih lanjut.