Nyeri Dada: Penyebab, Gejala, dan Tips Mengatasinya

By Tim RS Pondok Indah

Monday, 24 March 2025

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Cara mengatasi nyeri dada dapat diatasi dengan bernafas teratur, membaringkan tubuh dengan kepala lebih tinggi, jangan makan ataupun minum selama relaksasi.

Nyeri Dada: Penyebab, Gejala, dan Tips Mengatasinya

Nyeri dada merupakan keluhan yang pernah dialami oleh hampir semua orang. Keluhan ini dapat dirasakan pada dada sebelah kiri maupun dada sebelah kanan, dengan tingkat keparahan yang juga beragam. Mengingat jantung juga terletak dalam rongga dada, keluhan pada bagian ini secara tidak langsung bisa menjadi gejala adanya masalah pada organ yang memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup.


Nyeri dada seringkali, bahkan masih, identik dengan penyakit atau gangguan pada jantung. Keluhan nyeri dada bahkan menjadi penyebab tertinggi kedua pasien memeriksakan diri ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Namun, keluhan ini sebenarnya tidak selalu disebabkan oleh masalah pada jantung dan belum tentu berisiko mengancam nyawa. 


Penanganan yang tepat dan cepat sesuai dengan penyebab nyeri dada akan meningkatkan angka keberhasilan pengobatan serta kelangsungan hidup penderitanya. Oleh karena itu, ketahui berbagai informasi mengenai gejala nyeri dada, serta kapan perlu memeriksakannya ke dokter.


Penyebab Nyeri Dada

Ada banyak organ yang berada di dada, selain jantung. Nyeri dada memang kebanyakan disebabkan oleh jantung, tetapi bisa juga disebabkan oleh organ lain yang berada dalam dada, maupun lokasinya berdekatan dengan dada.


Secara umum, penyebab nyeri dada bisa dibedakan menjadi 2, yakni karena kondisi medis dan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan jantung dan tidak terkait dengan jantung. Berikut ini adalah penjelasan singkat dan contoh kondisi penyebab nyeri dada:


1. Terkait dengan Jantung


  • Berkurangnya aliran darah ke jantung (angina)
  • Penyakit jantung koroner
  • Serangan jantung
  • Peradangan pada otot jantung (miokarditis)
  • Peradangan pada selaput tipis pembungkus jantung (perikarditis)
  • Gangguan katup jantung
  • Robeknya (diseksi) arteri koroner


2. Tidak Terkait dengan Jantung


  • Gangguan pada paru-paru: peradangan selaput pembungkus paru (pleuritis), radang paru-paru (pneumonia) atau kumpulan nanah di paru (abses paru), penumpukan udara bebas di selaput pembungkus paru (pneumotoraks), sumbatan darah pada paru (emboli paru), asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  • Gangguan pada sistem pencernaan: penyakit asam lambung (GERD), masalah pada esofagus, tukak lambung, hernia hiatus, peradangan pankreas (pankreatitis), batu empedu
  • Gangguan pada jaringan pembentuk dada: meliputi otot, tulang rusuk, saraf: retak atau patah tulang iga, tarikan pada otot dada, herpes zoster
  • Psikis: serangan panik dan gangguan kecemasan


Nyeri dada bisa disebabkan oleh berbagai faktor, pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dapat membantu memastikan penyebab dari keluhan yang Anda rasakan saat ini.


Baca juga: Siaga Satu Serangan Jantung!


Kapan Harus ke Dokter?

Bila mengalami nyeri dada, baik ringan ataupun berat, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk penanganan yang tepat. Segera pergi ke IGD rumah sakit terdekat jika Anda curiga nyeri dada yang terjadi merupakan gejala dari serangan jantung, antara lain:


  • Dada terasa sesak, seperti diremas, dihimpit, atau sakit yang hebat di bawah tulang dada
  • Nyeri dada menjalar hingga ke rahang, lengan, dan pundak kiri
  • Nyeri dada yang terasa tajam dan terjadi secara tiba-tiba, disertai dengan sesak napas, terutama setelah beristirahat untuk waktu yang lama
  • Mual, pusing, jantung berdebar-debar, frekuensi napas meningkat, merasa linglung atau bingung, wajah terlihat pucat hingga keabu-abuan, atau keringat berlebih
  • Denyut jantung sangat lambat atau tekanan darah sangat rendah


Nantinya dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di rumah sakit akan memberikan penanganan yang sesuai.


Selain gejala serangan jantung di atas, Anda juga harus segera memeriksakan diri ke IGD rumah sakit terdekat bila nyeri dada disertai dengan gejala mencurigakan lainnya, seperti:


  • Pusing
  • Mual dan muntah
  • Nyeri dada terasa menjalar ke bahu dan lengan
  • Sesak napas atau frekuensi bernapas menjadi lebih cepat (hiperventilasi)
  • Denyut jantung melemah atau menjadi lebih lambat
  • Merasa bingung atau linglung


Baca juga: Apakah Kelainan Otot Jantung Bisa Sembuh? Jenis, Penyebab, dan Penanganannya



Diagnosis Nyeri Dada

Untuk memastikan penyebab dan penanganan yang sesuai bagi gejala nyeri dada yang Anda alami, dokter akan melakukan tanya jawab medis (anamnesis), sebelum melakukan pemeriksaan fisik. 


Anamnesis yang dilakukan dokter biasanya bertujuan untuk mengetahui karakter nyeri dada, termasuk durasi, keparahan, hal yang meringankan atau memperparah nyeri, nyeri menetap atau hilang timbul, terasa seperti ditusuk-tusuk atau dihimpit beban berat, serta menunjukkan lokasi nyeri.


Selain itu, dokter juga akan melakukan anamnesis untuk mengetahui faktor risiko sakit jantung yang Anda miliki, termasuk riwayat tekanan darah tinggi, kadar kolesterol, kadar gula darah, kebiasaan merokok, kurang aktif bergerak terlebih berolahraga secara rutin, tidak menjaga pola makan, berusia lebih dari 45 tahun, dan memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung maupun pembuluh darah.


Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan suara jantung dan pernapasan, untuk membantu proses diagnosis nyeri dada. Guna memastikan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, dokter juga bisa menyarankan pemeriksaan penunjang berupa EKG, treadmill atau stress test, rontgen dada, CT-Scan jantung, tes darah, angiografi maupun kateterisasi. 


Baca juga: Kegunaan MRI untuk Diagnosis Penyakit Jantung


Apakah Nyeri Dada Bisa Sembuh?

Nyeri dada bisa sembuh, asalkan penyebab yang mendasarinya diidentifikasi dan diobati dengan tepat. Penting untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami nyeri dada, karena beberapa penyebabnya bisa mengancam nyawa. Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai, kebanyakan nyeri dada bisa disembuhkan, atau setidaknya dikelola, sehingga Anda bisa kembali menjalani kehidupan yang sehat dan produktif.


Penanganan Nyeri Dada

Pada dasarnya, nyeri dada akan diatasi sesuai dengan penyebab yang mendasarinya, baik dengan peresepan obat maupun tindakan medis, yang dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat.


Perilaku yang termasuk dalam pola hidup sehat adalah menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang, rutin berolahraga, tidak merokok dan konsumsi alkohol, menjaga berat badan ideal, serta memastikan tekanan darah maupun kadar kolesterol tetap normal.


Tips Meredakan Nyeri Dada Mandiri

Saat mengalami nyeri dada, Anda dapat menerapkan beberapa tips berikut untuk meredakan nyeri dada secara mandiri:


  • Tetap tenang dan bernafaslah dengan teratur, akan lebih baik jika Anda mengetahui dan dapat menerapkan teknik relaksasi
  • Atur posisi tubuh agar lebih nyaman
  • Segera hentikan semua kegiatan yang sedang dilakukan dan beristirahatlah
  • Berbaring dengan posisi kepala lebih tinggi, bisa dengan menumpuk 2 bantal
  • Longgarkan kerah, dasi, baju, maupun pakaian yang bisa membuat sesak napas
  • Jangan makan maupun minum hingga nyeri dada membaik


Sambil melakukan tips-tips di atas, carilah bantuan atau hubungi tenaga medis untuk memberikan pertolongan lebih lanjut.


Baca juga: Perkembangan Pengobatan Penyakit Jantung Koroner


Tindakan Medis untuk Nyeri Dada

Bila tidak membaik setelah menerapkan tips di atas, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pertolongan lebih lanjut. Dokter mungkin meresepkan obat-obatan untuk meredakan nyeri tersebut.


Jika nyeri dada tidak membaik dengan obat-obatan yang diresepkan, biasanya dokter akan menyarankan tindakan medis, meliputi:


  • Pemasangan ring jantung, untuk melebarkan pembuluh darah yang tersumbat
  • Operasi bypass jantung, untuk membuat jalan pintas sebagai solusi pembuluh darah jantung yang tersumbat total atau parah
  • Reinflasi paru-paru, atau tindakan untuk mengembangkan kembali paru-paru ke bentuk semula, dilakukan pada kasus paru-paru yang mengempis akibat PPOK maupun gangguan paru yang lain
  • Perbaikan diseksi aorta, atau memperbaiki pembuluh darah aorta yang robek


Pilihan penanganan terbaik untuk nyeri dada yang Anda alami hanya bisa dipastikan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, setelah melakukan pemeriksaan langsung sesuai dengan riwayat kesehatan serta keparahan kondisi Anda. 


Baca juga: Berbagai Dampak Penyakit Jantung Koroner



Pencegahan Nyeri Dada


Jaga Pola Makan Sehat

Konsumsi makanan yang seimbang dan rendah lemak jenuh, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan protein tanpa lemak. Hindari makanan cepat saji dan makanan tinggi kolesterol yang dapat menyebabkan penumpukan plak di arteri, pemicu terjadinya nyeri dada.


Rutin Berolahraga

Olahraga teratur seperti berjalan, bersepeda, atau berenang dapat membantu menjaga kesehatan serta memperkuat jantung dan pembuluh darah. Aktivitas fisik yang cukup dapat mencegah nyeri dada yang disebabkan oleh masalah jantung.


Kelola Stres dengan Baik

Stres yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan memicu nyeri dada. Sebagai solusinya, luangkan waktu untuk melakukan relaksasi, baik dengan bermeditasi, yoga, atau menerapkan teknik pernapasan, guna mengelola stres.


Hindari Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan

Merokok dapat merusak jantung dan pembuluh darah, sementara alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah serta menyebabkan masalah jantung. Maka, jangan merokok dan batasi konsumsi alkohol untuk mencegah nyeri dada yang berkaitan dengan kesehatan jantung.


Baca juga: Cara Memilih Jenis Olahraga untuk Penderita Jantung


Pantau Tekanan Darah Secara Teratur

Tekanan darah tinggi adalah salah satu penyebab utama nyeri dada. Jadi, periksalah tekanan darah secara rutin dan ikuti anjuran dokter untuk menjaganya dalam batas normal.


Jaga Berat Badan Ideal

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan menyebabkan nyeri dada. Untuk menyiasatinya, usahakan menjaga berat badan ideal dengan pola makan sehat dan olahraga teratur.


Hindari Makan Berlebihan

Makan terlalu banyak sekaligus dapat menyebabkan refluks asam atau gangguan pencernaan, yang seringkali memicu nyeri dada. Anda lebih disarankan untuk makan dalam porsi kecil, tetapi lebih sering guna mencegah masalah ini.


Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Rutin

Pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu mendeteksi dini masalah jantung atau kondisi lain yang dapat menyebabkan nyeri dada. Konsultasi dengan dokter akan membuat Anda mendapat penanganan yang tepat.


Tidur yang Cukup dan Berkualitas

Tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk kesehatan jantung. Sebab kurang tidur dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan memicu nyeri dada. Jadi, pastikan Anda tidur setidaknya 7-8 jam setiap malam.


Hindari Konsumsi Kafein Berlebihan

Konsumsi kafein berlebih dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, yang dapat menyebabkan nyeri dada. Anda lebih baik membatasi konsumsi kafein, baik dalam bentuk kopi, teh, atau minuman energi, untuk menjaga kesehatan jantung.


Selain itu, Anda tetap dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter jika mengalami nyeri dada yang disertai dengan batuk, pilek, demam, maupun menggigil, serta tidak membaik setelah mengonsumsi obat anti nyeri. Pemeriksaan rutin ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah juga diwajibkan untuk Anda yang memiliki faktor risiko penyakit jantung. 


Baca juga: Deteksi Dini Kelainan Jantung pada Dewasa Muda



FAQ


Nyeri Dada Itu Gejala Apa?

Nyeri dada bisa menjadi gejala berbagai kondisi, baik karena masalah jantung, seperti angina atau serangan jantung, gangguan pencernaan seperti GERD, masalah paru-paru seperti pneumonia atau emboli paru, hingga kondisi otot atau tulang seperti cedera otot dada. Karena bisa mengindikasikan kondisi serius, nyeri dada harus segera diperiksakan ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, terutama jika disertai sesak napas, pusing, atau nyeri menjalar ke lengan atau rahang.


Apa yang Harus Dilakukan Ketika Nyeri di Dada?

Ketika mengalami nyeri di dada, segera hentikan aktivitas dan duduk atau berbaring dengan posisi yang nyaman. Jika nyeri berlangsung lebih dari beberapa menit, disertai gejala seperti sesak napas, pusing, atau nyeri menjalar ke lengan atau rahang, segera hubungi layanan darurat atau pergi ke rumah sakit terdekat. Jangan menunda untuk mencari bantuan medis, karena nyeri dada bisa menjadi tanda kondisi serius seperti serangan jantung.


Kenapa Dada Sebelah Kanan Sakit?

Dada sebelah kanan sakit bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari masalah otot seperti ketegangan atau cedera otot, hingga gangguan pencernaan seperti refluks asam lambung atau gas yang terperangkap. Kondisi lain, seperti peradangan pada tulang rusuk (costochondritis), infeksi paru-paru, atau stres dan kecemasan, juga bisa menyebabkan nyeri di area ini. 


Kenapa Dada Sebelah Kiri Sakit?

Dada sebelah kiri sakit bisa menjadi tanda berbagai kondisi, mulai dari masalah otot seperti ketegangan atau cedera otot hingga gangguan pencernaan seperti refluks asam lambung. Dada sebelah kiri sakit juga bisa mengindikasikan masalah jantung seperti angina atau serangan jantung.


Seperti Apa Nyeri Dada Karena Jantung?

Nyeri dada karena jantung, seperti pada serangan jantung, biasanya terasa seperti tertimpa beban berat, atau sesak di dada bagian tengah atau kiri. Rasa nyeri bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung, sering kali disertai keringat dingin, sesak napas, mual, atau pusing. Nyeri ini sering muncul saat beraktivitas fisik atau stres, dan tidak hilang dengan istirahat. Jika mengalami gejala ini, segera cari bantuan medis darurat.


Apakah Nyeri Dada Bisa Sembuh Sendiri?

Nyeri dada bisa sembuh sendiri jika penyebabnya ringan, seperti ketegangan otot atau masalah pencernaan, dan biasanya mereda dengan istirahat atau pengobatan sederhana. Namun, nyeri dada yang disebabkan oleh kondisi serius, seperti masalah jantung, membutuhkan penanganan medis segera dan tidak boleh diabaikan. Jika nyeri dada berlanjut, memburuk, atau disertai gejala lain seperti sesak napas, segera konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.


Ditinjau oleh:


dr. Alexandra Gabriella, Sp.J.P, FIHA

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah



Referensi:

  1. Writing Committee Members, Gulati, M., et al,. 2021 AHA/ACC/ASE/CHEST/SAEM/SCCT/SCMR guideline for the evaluation and diagnosis of chest pain: a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Journal of the American College of Cardiology. 2021. (https://www.jacc.org/doi/epdf/10.1016/j.jacc.2021.07.053). Diakses pada 6 Mei 2024.
  2. American Heart Association. Angina (Chest Pain). (https://www.heart.org/en/health-topics/heart-attack/angina-chest-pain). Revisi terakhir 8 November 2021. Diakses pada 3 Mei 2024.
  3. Health Direct Australia. Chest Pain (https://www.healthdirect.gov.au/chest-pain#waiting-ambulance). Revisi terakhir Desember 2023. Diakses pada 6 Mei 2024.
  4. Cleveland Clinic. Chest Pain. (https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/21209-chest-pain). Revisi terakhir pada 21 Juni 2023. Diakses pada 3 Mei 2024. 
  5. Mayo Clinic. Chest pain. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chest-pain/symptoms-causes/syc-20370838). Revisi terakhir 3 Mei 2023. Diakses pada 3 Mei 2024. 
  6. WebMD. What’s Causing my Chest Pain? (https://www.webmd.com/pain-management/whats-causing-my-chest-pain). Revisi terakhir 2 Mei 2023. Diakses pada 3 Mei 2024.