Sindrom Cotard, Penyakit Mental Langka yang Menyebabkan Tubuh Terasa Mati

By Tim RS Pondok Indah

Tuesday, 25 February 2025

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Sindrom Cotard merupakan gangguan mental langka yang menyebabkan penderitanya merasa seperti ‘mayat hidup’. Kondisi ini sekilas tampak ekstrim, namun bisa disembuhkan.

Sindrom Cotard, Penyakit Mental Langka yang Menyebabkan Tubuh Terasa Mati

Merasa hidup dan merasakan interaksi dengan lingkungan sekitar merupakan suatu esensi dari kehidupan seorang manusia. Namun, ketika tidak ada lagi perasaan ‘hidup’, tentu seseorang akan merasa hampa. Teutama ketika meyakini bahwa dirinya sudah meninggal dunia atau keberadaannya tidak bermakna, yang dikenal dengan sindrom Cotard, bisa menyebabkan berbagai komplikasi.


Namun, kondisi yang dikenal dengan istilah sindrom mayat berjalan ini, mungkin disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Oleh karena itu, baca informasi seputar sindrom Cotard dalam artikel di bawah ini!


Apa itu Sindrom Cotard​?

Cotard syndrome atau sindrom Cotard adalah sekumpulan gejala yang dialami seseorang dengan gangguan mental, dengan ciri utama adanya delusi nihilisme. Kondisi ini diberi nama sesuai dengan penemunya, yaitu Jules Cotard, seorang ahli saraf Perancis yang menemukan penyakit ini pada pasiennya di tahun 1880.


Kondisi yang juga dikenal sebagai sindrom mayat berjalan ini membuat penderitanya meyakini bahwa dirinya telah meninggal, sekarat, atau membusuk, maupun kehilangan sebagian dari bagian tubuhnya. Beberapa penderita sindrom Cotard juga akan meyakini bahwa dirinya tidak pernah ada atau keberadaannya tidak bermakna.


Baca juga: Mengenal Apa itu Skizofrenia, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat



Gejala Sindrom Cotard

Adanya keyakinan bahwa dirinya telah meninggal atau tidak pernah ada akan menyebabkan orang tersebut mengabaikan diri sendiri. Selain itu, ciri-ciri Sindrom Cotard bisa dikenali sebagai:


  • Delusi nihilisme, yang meyakini bahwa tidak ada yang bernilai, termasuk meragukan kehadiran dirinya sendiri. 
  • Merasakan beberapa bagian tubuh, organ, atau jiwanya tidak lagi ada, membusuk atau hilang.
  • Mengalami halusinasi, terutama suara yang mengatakan bahwa dia sudah meninggal, sedang sekarat atau sedang membusuk.
  • Menarik diri dari masyarakat maupun bersosialisasi dengan sesamanya, karena menganggap bahwa dirinya telah meninggal
  • Mutisme atau bisu psikologis, karena menganggap dirinya tidak pernah ada
  • Tidak mau makan, baik karena mempercayai bahwa dirinya sudah meninggal maupun sebagai upaya untuk melukai diri sendiri


Kondisi ini juga erat kaitannya dengan depresi, yang biasa ditandai dengan kecemasan, hipokondria, perasaan bersalah, halusinasi, maupun kecenderungan untuk melukai diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri.


Baca juga: Kenali ADHD, Bukan Sekadar Tidak Bisa Diam


Penyebab Sindrom Cotard

Hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti penyebab terjadinya sindrom Cotard. Namun, kondisi ini banyak dikaitkan dengan gangguan pada otak, seperti pada penderita migraine, epilepsi, ensefalopati, demensia, multiple sklerosis, penyakit Parkinson’s, stroke, maupun perdarahan subdural (di antara tengkorak dan otak).


Baca juga: Mengenali Kepribadian Ganda (DID Disorder) dan Gejalanya


Faktor Risiko Sindrom Cotard

Selain karena gangguan pada otak, ada beberapa faktor yang selama ini diyakini dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami Cotard syndrome, yakni: 


  • Berusia 50 tahun atau lebih
  • Berjenis kelamin wanita
  • Menderita gangguan kesehatan mental yang lain, terutama depresi dengan psikotik, kecemasan, skizofrenia, bipolar, depresi postpartum, katatonia, gangguan depersonalisasi, gangguan disosiatif, maupun penyalahgunaan narkoba
  • Mengalami masalah kesehatan otak yang bisa dinilai menggunakan pemeriksaan radiologi, termasuk migraine, sumbatan, infeksi, epilepsi, demensia, penyakit Parkinson's, multiple sklerosis, gegar otak, stroke, maupun tumor.


Kapan Harus ke Dokter?

Tidak hanya langka, sindrom Cotard merupakan salah satu gangguan mental yang berbahaya, terutama bila tidak segera ditangani. Sayangnya, orang yang memiliki kondisi ini seringkali tidak menyadari bahwa dirinya tengah mengalami delusi. Hal inilah yang menyebabkan penderita sindrom Cotard sulit terdiagnosis dan mendapat penanganan yang sesuai.


Jika Anda mencurigai orang terkasih mengalami sindrom Cotard, jangan ragu untuk segera menjadwalkan janji temu dengan dokter spesialis kesehatan jiwa. Ketika ia mulai menunjukkan gejala seperti menarik diri, enggan makan, bahkan melukai diri sendiri, segera bawa untuk mendapatkan pertolongan dari tenaga medis.


Baca juga: Borderline Personality Disorder (BPD), Gangguan Kepribadian yang Harus Diwaspadai



Diagnosis Sindrom Cotard

Upaya menegakkan diagnosis sindrom Cotard agak sulit, karena sebenarnya merupakan gejala dari kondisi medis yang lain. Kondisi ini bahkan tidak masuk ke dalam kriteria diagnostik DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).


Jadi, dokter spesialis kesehatan jiwa biasa baru akan menyimpulkan seseorang mengalami kondisi ini ketika sudah menyingkirkan kemungkinan kondisi lain yang menyerupai sindrom Cotard, salah satunya Capgras syndrome atau "imposter syndrome".


Baca juga: Kenali Jenis Sakit Kepala Anda


Penanganan Sindrom Cotard

Meski gejalanya terkesan sangat menakutkan, sindrom Cotard bisa disembuhkan, dengan penanganan yang sesuai.


Electroconvulsive therapy (ECT) merupakan pengobatan sindrom Cotard yang efektif hingga saat ini. Pengobatan yang juga dilakukan untuk pasien depresi berat ini memiliki mekanisme berupa pengaliran arus listrik bertegangan rendah untuk menciptakan kekacauan ringan secara singkat pada gelombang listrik otak. Tindakan yang juga dikenal dengan kejang listik ini dilakukan dalam posisi pasien terbius total.


Selain dengan ECT, dokter juga akan meresepkan beberapa obat-obatan untuk mengatasi sindrom Cotard yang meliputi, obat antidepresan, antipsikotik, maupun obat untuk menstabilkan suasana hati (mood stabilizers).


Untuk memaksimalkan hasil pengobatan, dokter juga mungkin akan membarengi pengobatan dengan melakukan psikoterapi, khususnya terapi perilaku.


Baca juga: Panic Attack: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya


Komplikasi Sindrom Cotard

Karena menyebabkan penderitanya meyakini bahwa dirinya telah meninggal, sindrom Cotard bisa menyebabkan berbagai komplikasi bagi penderitanya, seperti:


  • Kurangnya kesadaran akan kebersihan diri, terutama mandi
  • Dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, baik karena kondisi fisik yang tidak terawat, maupun karena perubahan perilaku yang dialami orang pengidap Cotard syndrome
  • Depresi yang makin parah karena diasingkan dari masyarakat
  • Munculnya beberapa gangguan pada kesehatan kulit maupun gigi dan mulut
  • Malnutrisi, kelaparan, bahkan dehidrasi, karena tidak mau makan
  • Upaya mencelakai diri sendiri hingga percobaan bunuh diri, sebagai upaya pembuktian bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa meninggal lagi maupun sebagai bentuk frustasi karena terperangkap dalam raga tanpa jiwa


Meski langka dan sulit dikenali, sindrom Cotard bisa disembuhkan dengan penanganan yang sesuai. Oleh karena itu, segera jadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa di RS Pondok Indah cabang terdekat ketika Anda mengenali kondisi yang menyerupai sindrom Cotard pada orang terkasih.


RS Pondok Indah telah dilengkapi dengan ECT yang lebih modern dan minim efek samping, yakni TMS (transcranial magnetic stimulation) untuk mengatasi sindrom Cotard dengan lebih maksimal. Jadi, tunggu apa lagi? Segera amankan jadwal konsultasi Anda di RS Pondok Indah cabang terdekat, sekarang juga!


Baca juga: Mengenal OCD: Lebih dari Sekadar Obsesi Akan Kerapihan



FAQ


Apakah Sindrom Cotard Termasuk Skizofrenia?

Sindrom Cotard, atau yang dikenal sebagai “sindrom mayat berjalan,” tidak termasuk skizofrenia. Namun, kedua kondisi ini memang melibatkan gangguan persepsi dan delusi.


Sindrom Cotard adalah kondisi langka di mana individu merasa bahwa mereka telah mati, tidak memiliki organ, atau bahkan tidak ada sama sekali. Sementara skizofrenia adalah gangguan mental yang lebih luas yang ditandai oleh gejala seperti halusinasi, delusi, dan gangguan pemikiran.


Selain itu, penting untuk mempertimbangkan diagnosis banding seperti Capgras syndrome, di mana individu percaya bahwa orang-orang di sekitar mereka telah digantikan oleh penipu.


Bagian Otak Mana yang Terpengaruh Oleh Sindrom Mayat Berjalan?

Berdasarkan hasil riset, sindrom mayat berjalan atau sindrom Cotard diduga berkaitan dengan disfungsi pada bagian otak prefrontal, temporal, dan amigdala. Korteks prefrontal bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, pemikiran rasional, dan kesadaran diri. Bagian temporal terkait dengan memori dan persepsi. Sedangkan amigdala berperan dalam emosi dan pengolahan rasa takut.


Kondisi ini juga dapat dikaitkan dengan ensefalopati, yang merupakan gangguan fungsi otak.


Apa Perbedaan Delusi dan Skizofrenia?

Delusi adalah keyakinan yang salah dan tidak dapat diubah, meskipun ada bukti yang bertentangan. Kondisi delusi dapat terjadi akibat berbagai gangguan mental, termasuk skizofrenia, tetapi juga mungkin muncul dalam kondisi lain seperti sindrom Cotard maupun demensia.


Siapa yang Bisa Terkena Waham Cotard?

Waham Cotard dapat mempengaruhi siapa saja. Namun, individu dengan riwayat gangguan mental, seperti depresi berat, skizofrenia, gangguan bipolar, atau katatonia lebih berisiko mengalami sindrom Cotard. Selain itu, waham Cotard sering kali muncul setelah trauma emosional atau fisik, seperti kehilangan, penyakit kronis, atau kecelakaan.


Meskipun jarang, kondisi ini bisa menjadi sangat serius dan memerlukan perhatian medis segera.



Referensi:

  1. Ghosh A. What Are the Current and Developing Treatments for Cotard’s Syndrome, Alice in Wonderland Syndrome, and Catatonic Schizophrenia?. Open Journal of Psychiatry. 2024. (https://www.scirp.org/journal/paperinformation?paperid=132751). Diakses pada 20 Februari 2025.
  2. Asadi S, Jafari H, et al,. The Role of Bio-Psycholog-ical Factors in Cotard Syndrome. Int J Psychol Psychoanal. 2022. (https://www.researchgate.net/profile/Shahin-Asadi/publication/364301801_The_Role_of_Bio-Psycholog-ical_Factors_in_Cotard_Syndrome/links/63442c469cb4fe44f3199929/The-Role-of-Bio-Psycholog-ical-Factors-in-Cotard-Syndrome.pdf). Diakses pada 20 Februari 2025.
  3. Taib NI, Wahab S, et al,. Case Report: Cotard’s Syndrome in Anti-N-methyl D-aspartate (NMDA) Receptor (Anti-NMDAR) Encephalitis. Frontiers in Psychiatry. 2022. (https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2022.779520/full). Diakses pada 20 Februari 2025.
  4. Cleveland Clinic. Depression. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9290-depression). Direvisi terakhir 13 Januari 2023. Diakses pada 20 Februari 2025.
  5. Mayo Clinic. Bipolar disorder. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/diagnosis-treatment/drc-20355961). Direvisi terakhir 14 Agustus 2024. Diakses pada 20 Februari 2025.
  6. Mayo Clinic. Transcranial magnetic stimulation. (https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/transcranial-magnetic-stimulation/about/pac-20384625). Direvisi terakhir 7 April 2023. Diakses pada 20 Februari 2025.