Usus Buntu, Ketahui Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

By Tim RS Pondok Indah

Friday, 13 December 2024

RSPI Facebook linkRSPI twitter linkRSPI Linkedin link
RSPI link

Penyakit usus buntu adalah peradangan dan pembengkakan pada usus buntu. Kondisi ini perlu ditangani sebelum usus buntu pecah dan berakibat fatal pada kesehatan.

Usus Buntu, Ketahui Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Usus buntu adalah organ berbentuk seperti kantong yang ukurannya sebesar jari dan merupakan tonjolan dari usus besar yang terletak pada perut bagian kanan bawah. Organ ini berfungsi untuk menjaga sistem kekebalan tubuh yang penting bagi kesehatan secara umum. 


Namun, karena adanya sumbatan dari sisa makanan yang disalurkan melalui usus besar, usus buntu bisa saja terinfeksi dan meradang. Adanya peradangan pada usus buntu ini dikenal dengan apendisitis atau dalam istilah awamnya penyakit usus buntu.


Penyakit ini bisa dialami siapa saja, tetapi anak-anak yang berusia lebih dari 10 tahun lebih sering mengalaminya. Bagi siapapun yang mengalami gejala penyakit usus buntu, sebaiknya segera mendapatkan penanganan medis yang tepat, sebelum terjadi komplikasi yang bisa membahayakan jiwa.


Apa Itu Usus Buntu?

Penyakit usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks, karena sumbatan yang terinfeksi dan menyebabkan peradangan. Kondisi ini akan menyebabkan penderitanya mengalami sakit perut pada bagian kanan bawah, mual, demam, serta menurunnya nafsu makan.


Usus buntu yang meradang perlu mendapat penanganan tepat sesegera mungkin. Sebab jika dibiarkan, usus buntu yang tersumbat akan menimbulkan rasa sakit yang semakin parah, bahkan sampai pecah. Ketika usus buntu pecah, infeksi bisa menyebar ke seluruh perut dan menyebabkan kondisi yang bisa mengancam nyawa penderitanya. 


Baca juga: Infeksi Saluran Pencernaan, Sudah Biasa, tetapi Tidak Bisa Diabaikan



Gejala Usus Buntu

Gejala utama penyakit usus buntu ditandai dengan nyeri di perut bagian kanan bawah. Berikut ini adalah karakteristik nyeri perut yang bisa dirasakan penderita usus buntu:


  • Nyeri tiba-tiba yang bermula di sekitar pusar.
  • Nyeri dari pusar kemudian berpindah ke bagian perut kanan bawah.
  • Nyeri pada perut kanan bawah ini bertambah parah saat tekanan dalam rongga perut meningkat, seperti saat batuk, mengejan, atau berjalan, serta ketika perut ditekan.
  • Nyeri pada sisi kanan bawah perut akan terasa agak berkurang saat penderitanya meringkuk atau menekuk kaki hingga posisi lutut menempel pada dada.


Selain nyeri, usus buntu juga disertai dengan gejala lainnya, seperti:


  • Perut kembung atau terasa begah
  • Diare atau sembelit
  • Perut bergas
  • Nafsu makan berkurang
  • Tubuh terasa lemas
  • Tidak enak badan
  • Mual dan muntah
  • Demam, terutama saat peradangan semakin parah


Usus buntu merupakan kondisi medis yang bisa menjadi berbahaya apabila terlambat ditangani. Oleh sebab itu, bila Anda mengalami gejala usus buntu, segera kunjungi IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan secepatnya.


Baca juga: Waspadai Kolitis Ulseratif, Penyakit Radang Usus Besar yang Kronis


Penyebab Usus Buntu

Penyebab penyakit usus buntu adalah sumbatan yang membuat organ usus buntu terinfeksi. Adanya tumpukan sisa makanan maupun makanan yang tidak tercerna dengan baik dalam usus buntu akan meningkatkan risiko terjadinya infeksi. 


Saat rongga usus buntu terinfeksi, bakteri berkembang biak dengan cepat sehingga menyebabkan usus buntu meradang, bengkak, bahkan bernanah. Jika tidak ditangani, usus buntu bisa pecah dan mengancam nyawa penderitanya.


Baca juga: Sakit Lambung, Periksakan Segera, Jangan Remehkan Akibatnya


Faktor Risiko Usus Buntu

Secara umum, penyakit usus buntu bisa dialami oleh siapa saja. Namun, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami usus buntu, termasuk:


  • Usia diantara 10 sampai 30 tahun.
  • Berjenis kelamin laki-laki.
  • Kurang mengonsumsi makanan berserat.
  • Memiliki riwayat keluarga yang menderita radang usus buntu.


Baca juga: Nyeri Ulu Hati, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya


Kapan Harus ke Dokter?

Anda perlu segera ke Dokter Spesialis Bedah Digestif di RS Pondok Indah cabang terdekat jika mengalami gejala-gejala penyakit usus buntu, khususnya jika nyeri perut yang dialami sangat parah.


Jangan menunda, sebab radang usus buntu yang tidak segera diobati dapat menyebabkan usus buntu pecah. Pecahnya usus buntu bisa menimbulkan abses atau penumpukan nanah, penyebaran infeksi hingga ke seluruh rongga perut, hingga menyebabkan sepsis.


Baca juga: Apakah Sepsis Bisa Sembuh? Penanganan Sepsis untuk Kesembuhannya



Diagnosis Usus Buntu

Dokter Spesialis Bedah Digestif akan menanyakan gejala yang Anda alami dan riwayat kesehatan Anda serta keluarga. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter akan dilakukan secara menyeluruh dengan berfokus pada daerah perut. Selain itu pemeriksaan colok dubur dan pemeriksaan panggul juga akan dilakukan pada pemeriksaan fisik.


Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:


  • Tes darah, untuk mendeteksi adanya tanda infeksi
  • Tes urine, untuk mengetahui kemungkinan gejala disebabkan oleh penyakit lain, seperti infeksi saluran kemih atau batu saluran kemih
  • USG perut, untuk mengetahui kondisi saluran pencernaan, khususnya usus buntu
  • CT scan maupun MRI, untuk melihat kondisi usus dengan lebih jelas, ketika hasil USG meragukan atau belum memberikan gambaran yang jelas
  • Tes kehamilan, untuk pasien wanita usia produktif juga akan dilakukan guna menyingkirkan kemungkinan nyeri perut akibat kehamilan ektopik
  • Foto rontgen perut, untuk menyingkirkan kemungkinan nyeri akibat batu saluran kencing 


Baca juga: Mengenal Konstipasi, Si Pengganggu Saluran Cerna


Pengobatan Usus Buntu

Pengobatan usus buntu sangat tergantung pada kondisi masing-masing orang, sesuai dengan tingkat keparahannya. Ada beberapa cara pengobatan usus buntu yang bisa dilakukan oleh Dokter Spesialis Bedah Digestif, yaitu:


1. Pemberian obat-obatan

Peresepan obat antibiotik akan dilakukan untuk menghentikan infeksi bakteri yang terjadi pada usus buntu. Dokter juga akan meresepkan obat analgesik untuk mengurangi keluhan nyeri perut.

Namun, cara menyembuhkan usus buntu yang utama adalah dengan operasi pengangkatan organ ini.


2. Tindakan operasi

Organ usus buntu perlu diangkat dengan tindakan operasi, apalagi jika sudah terinfeksi hingga menyebabkan peradangan. Anda tidak perlu khawatir karena operasi pengangkatan usus buntu relatif aman dan tidak mengganggu fungsi saluran cerna untuk jangka panjangnya.


Secara umum metode operasi usus buntu bisa dibedakan menjadi 2, yakni laparoskopi atau operasi dengan sayatan minimal dan laparotomi atau operasi bedah terbuka. Berikut ini adalah penjelasan singkatnyanya:


Laparoskopi

Operasi usus buntu dengan laparoskopi, atau prosedur operasi minimal invasive, dilakukan dengan membuat beberapa sayatan sebesar lubang kunci di beberapa bagian pada perut. Melalui sayatan tersebut, dokter akan memasukkan alat khusus untuk memotong dan ngangkat usus buntu.


Pemulihan setelah operasi usus buntu dengan teknik ini umumnya lebih cepat. Selain itu, rasa sakit yang dikeluhkan juga lebih minimal dibandingkan dengan teknik bedah terbuka.


Laparatomi

Laparotomi atau operasi bedah terbuka dilakukan dengan membuat sayatan sekitar 5-10 cm di bagian perut kanan bawah untuk membantu mengangkat usus buntu. Teknik bedah ini lebih banyak digunakan pada kasus usus buntu yang sudah pecah, dan infeksi menyebar ke rongga perut (peritonitis).


Dibandingkan dengan teknik laparoskopi, operasi terbuka lebih baik dalam segi detil pengerjaan, karena bisa membersihkan rongga perut dengan lebih teliti. Namun, masa pemulihan bedah terbuka relatif lebih lama, dan risiko terjadinya bekas luka operasi (jaringan parut) sangat tinggi.


Baca juga: Kenali Polip Usus Sebelum Berubah Menjadi Kanker Usus!


Komplikasi Usus Buntu

Penyakit usus buntu perlu mendapatkan penanganan segera mungkin, apalagi jika usus buntu sudah pecah dan infeksi telah menyebar di dalam rongga perut. Selain pecahnya usus buntu, berikut ini adalah beberapa komplikasi usus buntu yang tidak mendapatkan penanganan dengan tepat:


  • Peritonitis, atau peradangan pada selaput pelapis rongga perut yang ditandai dengan perut teraba keras dan membesar, demam, serta jantung berdebar-debar. 
  • Abses, baik berupa apendisitis inflitrat maupun apendisitis abses, ketika usus buntu sudah bernanah.
  • Sepsis, atau penyebaran infeksi, ketika usus buntu pecah dan bakteri masuk ke aliran darah kemudian menyebar ke seluruh tubuh.


Baca juga: Memahami Penyakit Radang Usus (IBD) yang Dapat Memengaruhi Kualitas Hidup


Pencegahan Usus Buntu

Tidak ada cara pasti untuk mencegah terjadinya penyakit usus buntu. Namun, beberapa tips di bawah ini bisa mengurangi risiko Anda mengalami penyakit usus buntu, yaitu:


  • Konsumsi makanan berserat, seperti aneka buah dan sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum utuh.
  • Pastikan minum air putih setidaknya 2 liter per hari agar tidak mengalami sembelit.
  • Tidak menunda BAB ketika merasa mulas atau ingin BAB.
  • Konsumsi makanan tinggi probiotik agar kesehatan saluran cerna terjaga dengan baik.


Usus buntu memang merupakan suatu kondisi yang perlu ditangani dengan segera. Namun, dengan penanganan yang tepat dan cepat, kondisi ini hampir selalu tidak membahayakan penderitanya. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke Dokter Spesialis Bedah Digestif di RS Pondok Indah cabang terdekat ketika mengalami keluhan yang menyerupai gejala usus buntu.


Dokter berpengalaman di rumah sakit Pondok Indah akan menegakkan diagnosis usus buntu dengan tepat dan cepat, sehingga penanganan yang tepat bisa segera diberikan. Jika memerlukan operasi usus buntu, dokter spesialis bedah digestif kami akan memberikan penanganan terbaik dengan didukung oleh fasilitas medis berteknologi terkini.


Baca juga: Mengenal Kanker Usus Besar (Kolorektal) yang Harus Diwaspadai



FAQ


Apakah Kurang Minum Air Putih Bisa Menyebabkan Usus Buntu?

Kurang minum air putih tidak secara langsung menyebabkan usus buntu, tetapi bisa berkontribusi pada masalah pencernaan yang lebih luas, seperti sembelit. Penumpukan feses akibat sembelit dapat memberi tekanan berlebih pada usus, yang kemudian memicu atau memperparah kondisi peradangan usus buntu. Oleh karena itu, menjaga asupan cairan yang cukup sangat penting untuk kesehatan pencernaan.


Apakah Usus Buntu Disebabkan oleh Mie Instan?

Mie instan tidak secara langsung menyebabkan usus buntu, tetapi konsumsi makanan yang rendah serat, seperti mie instan, dapat meningkatkan risiko sembelit. Di mana sembelit kronis dapat memperburuk kondisi pencernaan, yang pada beberapa kasus dapat memicu terjadinya apendisitis.


Apakah Usus Buntu Harus Dioperasi?

Operasi pengangkatan usus buntu, atau apendektomi, sering kali diperlukan jika usus buntu mengalami peradangan akut. Namun, pada kasus tertentu, Dokter Spesialis Bedah Digestif bisa mempertimbangkan opsi pengobatan lain.


Kapan Usus Buntu Perlu Dioperasi?

Usus buntu perlu dioperasi segera setelah terdiagnosis apendisitis akut. Jika terjadi peradangan parah, nyeri hebat, demam, atau muntah, operasi menjadi langkah yang diperlukan untuk mencegah pecahnya usus buntu, maupun komplikasi lain.



Referensi:

  1. Echevarria S, Rauf F, et al,. Typical and atypical presentations of appendicitis and their implications for diagnosis and treatment: a literature review. Cureus. 2023. (https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10152406/). Diakses pada 19 November 2024.
  2. Health Direct Government Australia. Laparoscopy. (https://www.healthdirect.gov.au/laparoscopy). Direvisi terakhir Desember 2023. Diakses pada 19 November 2024.
  3. Cleveland Clinic. Appendicitis. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8095-appendicitis#symptoms-and-causes). Direvisi terakhir 9 Mei 2023. Diakses pada 19 November 2024. 
  4. Cleveland Clinic. Laparotomy. (https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/24767-laparotomy). Direvisi terakhir pada 27 Februari 2023. Diakses pada 19 November 2024.
  5. Mayo Clinic. Appendicitis. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543). Direvisi terakhir 16 Juli 2024. Diakses pada 19 November 2024.