Epilepsi adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kejang berulang yang tidak terkendali. Penyebabnya gangguan pada sistem saraf pusat. Simak selengkapnya!
Sel-sel di otak mengirim dan menerima pesan dari seluruh bagian tubuh. Pesan-pesan tersebut disalurkan melalui sinyal listrik yang terjadi terus-menerus antar sel saraf.
Namun, pada orang yang mengalami epilepsi, proses pengiriman dan penerimaan sinyal dari maupun ke otak ini terganggu. Pesan yang harusnya dikirimkan antarsel, justru berhamburan dan mengakibatkan penderita epilepsi mengalami kejang, bahkan kehilangan kesadaran.
Epilepsi adalah salah satu penyakit pada sistem saraf yang bersifat kronis (jangka panjang), ditandai dengan kejang berulang akibat adanya gangguan pada sel otak. Penyebab pasti terjadinya kondisi yang juga dikenal dengan istilah ayan ini masih belum diketahui.
Epilepsi bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Sebagian penderita epilepsi mungkin mengalami kehilangan kesadaran saat kejang. Namun, sebagian lainnya tetap tersadar meski sedang mengalami kejang.
Baca juga: Mengenal Berbagai Jenis Kejang Epilepsi dan Perbedaannya
Berdasarkan lokasi kelainan di otak, jenis epilepsi bisa dibedakan menjadi 2 kelompok, dengan penjelasan sebagai berikut ini:
Epilepsi fokal adalah kondisi di mana aktivitas listrik abnormal hanya muncul di satu bagian otak. Jenis epilepsi ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
Pasien tetap tersadar selama kejang dengan gejala berupa gerakan tidak terkendali di satu bagian tubuh, muncul sensasi aneh seperti adanya bau, rasa, atau suara. Pasien jenis epilepsi ini juga mengalami perubahan emosi secara tiba-tiba
Pasien terlihat bingung atau mengalami gangguan kesadaran, melakukan gerakan tanpa sadar, seperti mengunyah atau berjalan tanpa sadar. Setelah kejang, biasanya pasien sering mengalami kebingungan dan tidak ingat apa yang terjadi
Epilepsi umum terjadi ketika aktivitas listrik abnormal muncul di kedua sisi otak pada saat yang bersamaan. Biasanya, epilepsi jenis ini menyebabkan hilangnya kesadaran atau kewaspadaan serta menyebabkan munculnya gerakan tidak normal pada kedua sisi tubuh.
Baca juga: Kenali Gejala Awal Kanker Otak Sebelum Semakin Parah
Kejang dapat mempengaruhi seseorang dengan cara yang berbeda-beda, tergantung bagian otak mana yang terkena. Beberapa gejala epilepsi yang banyak dikeluhkan penderitanya adalah sebagai berikut ini:
Meski identik dengan kejang tonik klonik, orang dengan epilepsi juga bisa mengalami gejala lainnya. Penderita epilepsi juga mungkin mengalami gangguan perilaku dan psikosis. Yang dimaksud dengan psikosis adalah gangguan jiwa yang menyebabkan seseorang sulit untuk membedakan kenyataan dan imajinasi. Untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat, Anda harus berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi.
Baca juga: Multiple Sclerosis: Penyakit Autoimun yang Merusak Saraf
Penyebab pasti epilepsi belum diketahui sampai saat ini. Namun, penyakit ini terjadi ketika aktivitas listrik di otak tidak normal sehingga terjadi benturan aliran listrik di otak yang menimbulkan kejang pada tubuh.
Berdasarkan penyebabnya, epilepsi bisa dibedakan menjadi 3 kelompok besar, yakni:
Baca juga: Kenali dan Tangani Cerebral Palsy untuk Memaksimalkan Kualitas Hidup Penderitanya
Ada beberapa kondisi yang diduga menjadi faktor risiko epilepsi, yaitu:
Lalu, apakah epilepsi penyakit keturunan? Ya, seseorang berisiko lebih tinggi mengalami epilepsi jika memiliki keluarga dengan kondisi serupa.
Baca juga: Jangan Sampai Epilepsi Mengganggu Perkembangan Si Buah Hati
Selain itu, ada beberapa penyebab dan faktor risiko pemicu kambuhnya epilepsi, yaitu:
Segera lakukan pemeriksaan ke RS Pondok Indah cabang terdekat jika Anda mengalami kejang untuk pertama kalinya, yang terjadi selama lebih dari 5 menit. Kejang yang Anda alami tidak selalu menandakan penyakit epilepsi. Namun, dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kejang yang dialami.
Selain kejang, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis neurologi jika Anda mengalami keluhan setelah mengalami cedera kepala.
Baca juga: Kenali Jenis Sakit Kepala Anda
Apabila pasien datang ke rumah sakit saat mengalami kejang, dokter spesialis neurologi akan memberikan penanganan pertama untuk mengatasi kejang.
Setelah pasien tersadar dan kondisinya stabil barulah dokter akan melakukan tanya jawab seputar gejala yang dialami, serta riwayat kesehatan pasien maupun keluarga.
Kemudian, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis, yaitu:
Baca juga: Kenali Cephalgia (Sakit Kepala) dan Cara Mengatasinya
Setelah dokter menegakkan diagnosa epilepsi, barulah dokter bisa memberikan pengobatan yang tepat. Pada dasarnya, pengobatan epilepsi ditujukan untuk mengendalikan gejala yang muncul, bukan untuk menyembuhkan penyakit ini.
Dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan penyebab, gejala, dan keparahan epilepsi yang diderita oleh masing-masing pasien, yang dibarengi dengan perubahan gaya hidup. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan epilepsi yang bisa dilakukan, yaitu:
Dokter akan meresepkan obat antikejang untuk mencegah kambuhnya kejang. Dokter akan meresepkan obat tersebut sesuai dengan kondisi masing-masing pasien saat ini.
Diet ketogenik dan diet Atkins merupakan pola makan yang dianjurkan untuk penderita epilepsi. Pilihan makanan dengan komposisi lemak tinggi, protein sedang, dan karbohidrat yang rendah.
Selain itu, diet indeks glikemik rendah juga dianjurkan untuk orang yang mengalami epilepsi karena terbukti mampu mengurangi kekambuhan kejang pada sebagian penderita epilepsi.
Merupakan suatu terapi non-operatif untuk pasien epilepsi dengan memanfaatkan medan magnet untuk memberi stimulasi saraf di otak yang terlalu aktif dan memicu terjadinya kejang pada orang dengan epilepsi.
Apabila obat antikejang yang dikonsumsi tidak bisa mengontrol kondisi pasien sehingga kejang terus berulang, dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk menjalani operasi.
Tindakan pembedahan untuk epilepsi bisa menjadi pilihan pengobatan yang aman dan efektif, jika pemberian dua atau lebih obat antikejang tidak mampu mengendalikan kejang yang dialami.
Tindakan operasi yang mungkin dokter lakukan, meliputi:
Baca juga: Tumor Otak, Kenali dan Tangani Sedini Mungkin
Epilepsi yang tidak ditangani dengan tepat bisa menyebabkan berbagai komplikasi yang akan memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup penderitanya. Berikut ini adalah beberapa komplikasi epilepsi yang mungkin terjadi:
Penyakit epilepsi bisa terjadi di luar kendali, yang artinya tidak bisa dicegah. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko mengalami penyakit epilepsi, yaitu:
Epilepsi bukan penyakit yang bisa disembuhkan, dan dialami untuk seumur hidup. Namun, pengobatan sedini mungkin mampu mengurangi gejala dan mencegah kambuhnya kejang akibat epilepsi.
Jadi, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis neurologi di RS Pondok Indah cabang terdekat untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan yang sesuai.
Baca juga: Apakah Penderita Meningitis Bisa Sembuh? Mengetahui Pengobatan untuk Meningitis
Epilepsi dapat dianggap sebagai penyakit berbahaya tergantung pada frekuensi dan jenis serangan yang dialami. Meskipun tidak semua epilepsi tergolong kondisi yang parah, serangan epilepsi berisiko menyebabkan cedera serius, bila serangan terjadi saat penderitanya tengah mengemudi atau berenang.
Ciri khas pasien yang mengalami serangan epilepsi bervariasi, tetapi umumnya mereka akan mengalami kehilangan kesadaran, gerakan tubuh yang tidak terkendali, dan kebingungan setelah serangan. Ada juga jenis kejang epilepsi yang lebih ringan, seperti bengong (absans), di mana pasien tampak melamun dan kehilangan kesadaran sejenak.
Epilepsi ringan merujuk pada serangan yang tidak mengganggu aktivitas pasien. Contohnya adalah serangan absans, di mana pasien mengalami kehilangan kesadaran sejenak, tetapi tampak seperti sedang bengong. Serangan ini dapat terjadi beberapa kali dalam sehari, tetapi biasanya tidak menyebabkan cedera.
Faktor keturunan dapat mempengaruhi risiko seseorang menderita epilepsi atau penyakit ayan. Namun, tidak semua kasus epilepsi disebabkan oleh faktor genetik. Banyak faktor lain seperti cedera otak, tumor otak, infeksi, atau kondisi medis lainnya yang dapat menyebabkan epilepsi.
Meskipun tidak semua pasien dengan epilepsi memerlukan EEG, tes ini sangat berguna dalam mendiagnosis epilepsi. Pemeriksaan ini juga dapat menentukan jenis epilepsi dan membantu dokter merencanakan pengobatan yang tepat.
Referensi: